Opini
Menata Ulang Denyut Pasar Lokal Makassar
Lewat pasar, penguasa memantau pergerakan orang asing, mengumpulkan kabar dari pelaut, dan mengontrol harga.
Kenyataannya justru meleset.
Bangunan bertingkat ini menabrak kebiasaan belanja orang Makassar yang terbiasa dengan ruang horizontal.
Baik pedagang maupun pembeli di sini lebih nyaman dengan interaksi yang cair, terbuka, dan gampang dijangkau.
Memaksa mereka masuk ke dalam gedung bergaya mal malah mematikan nyawa pasar itu sendiri.
Hasilnya bisa kita tebak: lantai atas gedung kosong melompong, sementara pedagangnya tumpah ruah ke jalanan.
Fenomena pasar tumpah ini sebaiknya tidak sekadar dilihat sebagai pelanggaran ketertiban, tapi bentuk penolakan pedagang untuk kembali merebut ruang horizontal yang memang lebih laku.
Belajar dari Kota Lain
Jika mau objektif, kita bisa belajar dari kota lain.
Revitalisasi Pasar Gede di Solo membuktikan bahwa fasilitas bisa dimodernisasi tanpa harus merusak bentuk asli bangunan dan fungsi horizontalnya.
Pendekatan mereka sebenarnya sederhana: fokus pada kebersihan dan perbaikan alur jalan, tanpa mencabut ikatan emosional pedagang dari tempat asalnya.
Begitu juga dengan Pasar Beringharjo di Yogyakarta.
Pasar ini dirawat sebagai bagian penting dari tata kota, bukan dianggap sebagai noda visual yang harus ditutupi bangunan baru.
Di Makassar, persoalan klasik seperti becek, tumpukan sampah, atau kemacetan—seperti yang kerap terjadi di sekitar di beberapa pasar—sering dipakai sebagai alasan untuk memindahkan pedagang.
Padahal, masalah-masalah itu sebenarnya bisa beres asalkan diurus dengan serius oleh pihak pengelola.
Ruang Sosial dan Masa Depan Pasar
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Muhammad-Randhy-Akbar.jpg)