Opini
Menata Ulang Denyut Pasar Lokal Makassar
Lewat pasar, penguasa memantau pergerakan orang asing, mengumpulkan kabar dari pelaut, dan mengontrol harga.
Awalnya mungkin hanya satu-dua pagandeng (pedagang keliling) yang mangkal di persimpangan jalan.
Belakangan, polanya bergeser dan beradaptasi.
Kita kini sering melihat pedagang yang menjadikan mobil sebagai lapak dadakan, membuka pintu bagasi belakang di bahu jalan untuk menjajakan barang.
Secara tata ruang, ini adalah bentuk negosiasi warga.
Mereka menciptakan pusat ekonomi di titik-titik yang paling mudah diakses.
Awalnya, pemerintah cenderung diam dan membiarkan.
Pembiaran ini sebenarnya berfungsi sebagai bentuk penyelamat bagi warga yang gagal masuk ke sektor kerja formal.
Namun, persoalan baru terasa ketika lapak-lapak dadakan ini makin ramai memadati bahu jalan dan berubah jadi kawasan dagang tanpa fasilitas dasar, seperti selokan atau lahan parkir.
Benturan mulai terjadi ketika keberadaan mereka dianggap membuat kota tampak semrawut.
Sayangnya, solusi yang diambil pun kadang cara instan yang tidak menjawab akar masalah di bawah; penggusuran.
Ilusi Gedung Bertingkat
Pada dekade 1990-an, Makassar pernah bereksperimen.
Tergoda oleh gaya pembangunan modern ala Singapura, pasar lokal coba diubah menjadi gedung bertingkat-tingkat.
Pasar Terong adalah salah satu contoh dari ambisi ini.
Alasan utamanya sederhana: menumpuk pedagang ke atas agar lahan lebih efisien dan jalanan tidak macet.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Muhammad-Randhy-Akbar.jpg)