Opini
Menata Ulang Denyut Pasar Lokal Makassar
Lewat pasar, penguasa memantau pergerakan orang asing, mengumpulkan kabar dari pelaut, dan mengontrol harga.
Pasar lokal di Makassar jelas bukan cuma tempat jual beli barang.
Ia adalah ruang sosial tempat bertemunya berbagai latar belakang secara setara.
Ketika minimarket membuat urusan belanja menjadi serba kaku dan tanpa basa-basi, pasar lokal adalah tempat di mana orang masih bisa menawar harga sambil saling bercanda.
Masa depan pasar kita bergantung pada kesediaan pemerintah untuk membangun hubungan baik dengan warganya.
Dalam hal ini, kita perlu meresapi kembali falsafah hidup Makassar: Rampea golla na kurampe ki kaluku (Berikan aku semanis gula, maka akan kubalas segurih kelapa).
Falsafah tentang hubungan timbal balik ini adalah inti sejati dari tata kota yang inklusif.
Jika pemerintah hadir untuk merawat pasar dan melindungi pedagang, maka warga tentu akan membalas kebaikan itu dengan menjaga kota bersama-sama.
Menata pasar tidak selalu berarti harus membangun proyek fisik bernilai miliaran.
Kadang, langkah paling tepat hanyalah memastikan fasilitas dasarnya terpenuhi: jalanannya tidak becek, selokannya mengalir, dan pedagangnya dilindungi dari penggusuran.
Pedagang bukannya tidak mau ditata, mereka hanya takut ketika pembeli tidak ada lagi datang ke pasar.
Menata pasar sejatinya adalah menata martabat warga kota.
Ketika keberadaannya dirawat dan dihargai, saat itulah kita benar-benar sedang membangun ruang kota yang berpihak pada semua golongan.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Muhammad-Randhy-Akbar.jpg)