Opini
Kepemimpinan Geokultural
Di balik eskalasi besar, terdapat dimensi lain yang lebih halus namun berpengaruh besar, yakni kebudayaan.
Lebih jauh, Winter menandaskan bahwa narasi sejarah yang dihidupkan kembali -seperti jalur perdagangan kuno sebagaimana yang dihidupkan Tiongkok- kerap digunakan untuk membangun solidaritas lintas negara di masa kini.
Pendekatan geokultural tidak hanya melengkapi, tetapi juga memperluas pemahaman tentang dinamika kekuasaan global.
Indonesia dan Fondasi Geokultur
Dalam konteks Asia Tenggara, dinamika ini memiliki bentuknya sendiri.
Wang Gungwu telah menegaskan bahwa kawasan ini sejak lama merupakan titik temu berbagai peradaban besar.
Identitasnya terbentuk melalui proses sejarah yang panjang dan interaksi lintas budaya yang intens.
Ke depan, Asia Tenggara tidak hanya akan menjadi arena persaingan geopolitik, tetapi juga sebagai ruang pembentukan identitas budaya.
Gita Wirjawan dalam What It Takes Asia Tenggara, memaknai kebudayaan sebagai entitas tak terpisah dalam lalu lintas masa depan bangsa.
Kebudayaan adalah dimensi penting bagi masa depan kepemimpinan negara.
Menurut Gita, kekuatan ekonomi saja tidak cukup.
Pengarusutamaan kebudayaan berkontribusi bukan hanya sebagai identitas, tetapi kompetensi yang akan membangun kepercayaan di mata dunia.
Indonesia, sesungguhnya memiliki peluang besar.
Keberagaman etnis, agama, bahasa, dan budaya adalah modal penting yang dapat dikembangkan sebagai kekuatan strategis.
Nilai-nilai seperti moderasi beragama dan kebhinekaan bukan sekadar warisan sejarah, melainkan sebagai potensi yang memperkuat posisi Indonesia di tingkat global.
Hanya saja, potensi tersebut perlu dikelola serius.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2025-11-18-Muhammad-Suryadi-R-Peneliti-Parametric-Development-Center.jpg)