Opini
Kepemimpinan Geokultural
Di balik eskalasi besar, terdapat dimensi lain yang lebih halus namun berpengaruh besar, yakni kebudayaan.
Pengaruh kini bergerak melalui jalur yang lebih subtil, yakni melalui ide, identitas, dan narasi.
Dalam konteks ini, publikasi Zhou Ya yang bertajuk Geoculture and Its Social Construction: A Political-Sociological Study of Religion and Ethnicity in Southeast Asia, menemukan relevansinya.
Zhou membentangkan satu konsep penyempurna geopolitik dan geoekonomi dalam memahami hubungan internasional.
Menurut Zhou, kontestasi global tidak hanya terjadi dalam ranah fisik, tetapi juga ranah simbolik.
Kebudayaan, khususnya agama dan etnisitas, membentuk identitas kolektif yang mempengaruhi pola interaksi antarnegara dan masyarakat.
Sebab itu, kepentingan bukanlah sesuatu yang sepenuhnya tetap, melainkan merupakan konstruk dari proses sosial yang terus berkembang dan mengalami dinamika.
Perbedaan utama antara pendekatan realisme dan geokultural, kata Zhou, terletak pada cara memandang sumber kekuatan itu sendiri.
Realisme menekankan aspek material seperti militer dan ekonomi, sedangkan pendekatan geokultural melihat kekuatan juga berakar pada cara manusia memahami dunia.
Perebutan pengaruh tidak hanya terjadi melalui kekuatan fisik, tetapi juga melalui ruang pembentukan makna seperti media, pendidikan, dan praktik keagamaan.
Fenomena ini begitu terasa dalam praktik hubungan internasional dewasa ini.
Negara-negara tidak hanya memperkuat aliansi militer, tetapi juga aktif menyebarkan pengaruh budaya melalui diplomasi publik, kerja sama pendidikan, pelestarian warisan budaya, serta industri kreatif.
Apa yang disebut sebagai soft power menjadi instrumen yang kian penting dalam menentukan posisi suatu negara di panggung global.
Penelitian Tim Winter yang berjudul Geocultural Diplomacy menjelaskan bagaimana hubungan internasional kontemporer semakin ditentukan oleh mobilisasi budaya, warisan sejarah, dan identitas.
Winter menunjukkan bahwa negara-negara tidak lagi hanya mengandalkan instrumen politik dan ekonomi, tetapi juga secara aktif memanfaatkan cultural heritage sebagai alat diplomasi membangun pengaruh global.
Dalam kerangka ini, situs sejarah, tradisi, dan memori kolektif menjadi medium strategis untuk menciptakan kedekatan emosional dan hubungan antarbangsa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2025-11-18-Muhammad-Suryadi-R-Peneliti-Parametric-Development-Center.jpg)