Opini Amir Muhiddin
Berdamai Dengan Donald Trump, Mungkinkah?
Khusus Donald Trump, oleh banyak ahli dan pengamat Timur Tengah sejak awal sudah merasa skeptis perdamaian akan berhasil.
Suka berdusta, dan ketika berbicara ia berbohong.
Sifat ini adalah bagian dari gangguan kepribadian Trump.
Ini bisa dilihat dari beberapa pernyataan Trump, saat baru saja dilakukan gencatan senjata dalam rangka upaya perdamaian yang diprakarsai oleh Pakistan.
Ketika diwawancarai oleh wartawan, Trump mengatakan bahwa AS sudah berhasil mengalahkan Iran, dan Amerikalah yang akhirnya memenangkan perang, padahal perundingan masih saja berlangsung dan Iran malah bersihkukuh untuk tidak menerima syarat-syarat yang diinginkan AS.
Jauh hari sebelumnya Trump pun berbohong dengan mengeklaim sedang melakukan pembicaraan produktif dengan “pemimpin tingkat tinggi” Iran untuk mengakhiri permusuhan.
Padahal pihak Teheran secara resmi membantah klaim ini dan menyebutnya sebagai “hoaks” yang bertujuan untuk memanipulasi pasar keuangan dan harga minyak dunia.
Selanjutnya, Trump klaim kehancuran Fasilitas Nuklir Iran, ia bahkan berulang kali mengklaim bahwa militer AS telah “menghapuskan” (obliterated) fasilitas nuklir Iran di Fordow, Natanz, dan Isfahan.
Namun, dokumen resmi Gedung Putih sendiri hanya menyatakan bahwa serangan tersebut “secara signifikan menurunkan” kemampuan program nuklir, bukan menghancurkannya total.
Trump juga mengeklaim telah menyapu bersih seluruh kekuatan militer Iran, termasuk angkatan laut dan sistem komunikasi.
Tetapi faktanya, para ahli dan data independen menunjukkan struktur kekuasaan Teheran tetap berfungsi, dan Iran masih mampu menembak jatuh pesawat militer AS (seperti F-15 dan A-10) tidak lama setelah klaim tersebut dibuat.
Selanjutnya, Trump mengklaim sebagian besar pesawat AS yang jatuh disebabkan oleh tembakan dari pihak sendiri (friendly fire).
Namun, laporan militer mengonfirmasi bahwa beberapa pesawat justru jatuh karena serangan rudal Iran.
Trump mengklaim bahwa semua mantan Presiden AS yang masih hidup mendukung serangannya terhadap Iran.
Setelah dikonfirmasi, staf dari keempat mantan presiden tersebut menyatakan tidak pernah berbicara dengan Trump mengenai masalah ini.
Ada lagi narasi yang dilontarkan Trump terkait dengan penyesatan korban dan persenjataan pelaku serangan sekolah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Amir-Muhiddin-75.jpg)