Kabar dari Langit
Ayo, ke Timur
Bagi Israel, perundingan itu bukan menghentikan, tetapi memberi waktu bagi berlangsungnya program nuklir Iran.
Rusia sebagai negara sekuler, Rusia tidak seperti sekulerisme Barat.
Sekulerisme Rusia memberi ruang dan menghormati agama, khususnya Kristen Orthodoks.
Jadi, dari segi agama, Rusia adalah Timur yang menjunjung agama.
Dengan China dan Rusia, Iran lebih merasa sama-sama sebagai bangsa Timur.
Dengan China dan Rusia, dan juga Korea Utara, Iran tidak benar-benar sepi sendirian di dalam membangun kemandiriannya di dalam masa-masa Barat menekan dan mengisolasinya.
Di dalam masa membangun kemandiriannya itulah, Iran bekerja antara lain dengan mengurangi impor dan mengembangkan industri lokal.
Sanksi yang dialami justru mendorong tumbuhnya industri domestik, termasuk industri militer.
Industri militer yang mandiri menjadikan tidak lagi masalah bagi Iran untuk tidak membeli senjata dari Barat.
Sebagai sahabat sesama Timur, Iran bisa membeli senjata dari China, Rusia dan Korea Utara.
Agaknya, tidak lama lagi dunia menoleh ke Timur. Tidak lama lagi, Barat bukan lagi kiblat sains.
Saya berpendapat, ke depan Timur akan menjadi pusat kajian agama-agama.
Khususnya Islam, penelitian dan kajiannya akan bergeser, terutama dari Kairo Mesir ke banyak kota di Timur.
Sebabnya, kini dunia menyaksikan Islam Syiah Iran menggerakkan roda sejarah dan peradabannya ke Timur. Bukan ke Barat. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20250903_DWN_Diskusi_Forum_Dosen_Prof-Dr-M-Qasim-Mathar.jpg)