Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Kabar dari Langit

Tuhan Orang Islam dan Kristen di Ambon Sudah Mati

Pada zaman itu, Pak JK kelihatan sangat sibuk mengatasi kerusuhan itu. Lalu, kenapa sekarang muncul narasi tentang Pak JK yang bernuansa berbalikan?

Editor: AS Kambie
TRIBUN-TIMUR.COM/MUHAMMAD ABDIWAN
NASIHAT SEPUH - M Qasim Mathar menyampaikan pendapat sekaligus nasihat dalam diskusi Forum Dosen di Redaksi Tribun-Timur, Makassar, Rabu (3/9/2025). Qasim Mathar ikut memberi penjelasan melalui opini terkait maraknya tudingan ke JK karena videonya dipotong lalu dipelintir, 15 April 2026 ini. 

Oleh: M Qasim Mathar
Pendiri Pesantren Matahari di Moncongloe Maros

TRIBUN-TIMUR.COM - Ya, waktu itu, pada zaman itu. Ketika konflik dan kerusuhan Ambon dan Poso membakar rasa keagamaan ummat. Pada zaman itulah saya menulis dengan judul "Tuhan orang Islam dan Kristen di Ambon sudah mati". 

Tuhan yang mereka tuhankan kehilangan fungsi; atau, saling membunuh orang Islam dan Kristen di Ambon pada zaman itu jauh dari sifat Tuhan yang membimbing Yesus menjadi Nabi yang "paling sangat penuh kasih sayang" dan mengutus Muhammad sebagai "kasih sayang bagi seluruh alam".

Pada zaman itu, Pak JK (Jusuf Kalla) kelihatan sangat sibuk mengatasi kerusuhan itu. Lalu, kenapa sekarang muncul narasi tentang Pak JK yang bernuansa berbalikan dengan aktifitas Pak JK mengatasi konflik zaman itu? 

Maka, kebingungan saya mendorong saya bertanya kepada teman-teman yang biasa saya curhat kepada mereka: Ada apa dengan Pak JK? 

Mereka satu-satu menjawab.

"Gak faham juga saya, Prof. Belakangan via medsos banyak berita tentang beliau, baik mengenai ucapannya maupun kaitannya dengan Bank. Apakah berita itu benar atau tidak (?), karena nampaknya kebebasan bicara sudah kebablasan. Salam!" kata seorang teman.

"Kita perlu mendengar ceramahnya secara utuh. Pak JK menjelaskan bahwa penyebab konflik ada beberapa: ketidakadilan, wilayah, ideologi dan juga agama." 

Ambon-Poso contoh konflik karena agama, Dimana Kristen dan Islam masing-masing menganggap mati dan mematikan adalah syahid.

"Konteksnya adalah Ambon dan Poso, bisa dengar mulai menit ke 9.30 video ceramah Pak JK di UGM itu". 

"Yaaah isi kitab suci banyak jadi masalah karena dipahami tidak secara konteks dan juga dipahami sepenggal-sepenggal. Manusia memahami sesuai apa yang dia mau. Bukan yang sebenarnya." 

Perhatikan, kawan itu mengutip ucapan Pak JK yang utuh dan dipotong,  '(Ambon Poso contoh konflik karena agama, dimana) Kristen dan Islam masing-masing menganggap mati dan mematikan adalah syahid'. Kalimat dalam kurung dipotong, kalimat selebihnya viral ke publik.

Kawan lainnya menjawab, "Disalahfahami oleh orang lain yang tidak memahami dengan baik isi pidato JK di UGM tentang Ambon dan Poso. Kemungkinan lain kesempatan buat kelompok tertentu yang tidak senang kepada JK selama ini, yang telah lama menanti untuk menyudutkan JK, sekarang momentnya. Boleh juga akibat kritik JK terhadap pemerintah yang memihak Amerika, saat secara umum bangsa ini memihak Palestina sehingga JK diberi pelajaran agar jangan terlalu vokal. Dan berbagai kemungkinan lain, ya …politik bisa merambah kemana mana sampai pada pengganyangan gereja tahun 60-an ikut dibuka. Padahal menurut saya kaum beragama dan bangsa Indonesia secara keseluruhan patut berterima kasih kepada JK atas peranan perdamaiannya di Ambon dan Poso, pada saat tokoh lain tidak mengambil peranan apapun untuk mencegah perpecahan bangsa saat itu. Dukungannya kepada Anies mungkin juga salah satu sumber pengikisan kharakter tsb. Kemungkinan lain Bung Qasim, akibat kesaktian kelompok Solo terganggu akibat kritik JK atas berlarutnya persoalan ijasah palsu itu." 

"Saya tidak bisa berpretensi tahu duduk persoalan dan dalam semua kaitannya, Prof. Tapi sepertinya beliau terpanggil untuk memberi tanggapan atas kondisi bangsa dan persoalan kepemimpinan nasional kita dewasa ini. Saya cuma melihat bahwa sulit menyangkal bila kondisi ketatanegaraan dan implementasi kebijakan nasional kita dalam beberapa bulan terakhir, sepertinya berkembang cukup rumit. Dalam kerumitan ini, terdapat simpul permasalahan yang berdimensi banyak dan menjadi lebih rumit karena merentang permasalahan kelembagaan, kelompok elit sampai ke pribadi masing-masing elite. Pada pokoknya, kondisi berkembang bagai benang kusut yang basah. Pasti saja puncak-puncak permasalahan yang ada ini, berada pada kutub-kutub politik, sosial, ekonomi dan keuangan. Walaupun saya melihat puncak tertingginya ada pada bidang politik, tapi tetap merentang dan mengait ke ketiga dimensi yang lain. Ada yanf merasa terganggu dengan penampilan diri JK, yang tentu saja mengundang reaksi, tapi rumitnya karena ada pula yang melihat kesempatan untuk ikut bermain dalam ganggu mengganggu ini. Hampir pasti, menurut saya, yang terlibat dan yang melibatkan diri, memuarakan sasaran akhirnya pada pemilu dan Pilpres 2029. Semoga saya salah dan naif, Prof," komentar sahabatku yang lain.

Agaknya, saya melihat negeri ini sedang dalam memikul pikulan yang berat. Saya ingin Presiden mengurangi terbang terlalu sering di angkasa dunia. 

Semoga Presiden punya takdir "terbang' juga ke pesantren yang jauh, ke sekolah teologi yang hening. Di situ Presiden mendengar nurani ummat! Jangan seperti Trump, sudah tak suka suara Paus Leo XIV

Entah apa akibat sikap Trump itu? Pak JK hanya mau menegaskan kembali: Tuhan tidak pernah mati!(*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved