Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Rahmat Muhammad

Lebaran dan Ilusi Kemenangan di Tengah Konflik

Bagi mereka, tidak ada ruang untuk merayakan kemenangan melainkan hanyalah upaya bertahan hidup dari hari ke hari.

Tayang:
Rahmat Muhammad
OPINI - Rahmat Muhammad Ketua Prodi S3 Sosiologi Unhas 

Ramadhan yang seharusnya melatih empati terhadap penderitaan orang lain, sering kali berhenti pada pengalaman simbolik semata, sekadar merasakan lapar tanpa benar-benar memahami struktur ketidakadilan yang menyebabkan jutaan orang hidup dalam penderitaan yang nyata.

Dalam konteks konflik global, empati yang muncul pun kerap bersifat sesaat, terbatas pada konsumsi informasi di media sosial tanpa diiringi kesadaran kritis maupun tindakan nyata.

Lebaran tahun ini, berisiko menjadi sebuah “ilusi kemenangan”, dimana sebuah perayaan yang seharusnya memberi rasa pencapaian, tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi dunia yang sesungguhnya.

Ilusi ini bukan berarti bahwa kemenangan spiritual tidak penting, melainkan bahwa makna kemenangan tersebut perlu diperluas.

Kemenangan tidak seharusnya hanya dimaknai sebagai keberhasilan menahan diri, tetapi juga sebagai kemampuan untuk membangun kepedulian yang melampaui batas-batas geografis dan identitas.

Dalam dunia yang semakin terhubung ini, penderitaan di satu wilayah tidak lagi dapat dianggap sebagai realitas yang jauh dan terpisah.

Konflik antara Israel, Iran, dan Amerika Serikat bukan sekadar isu politik internasional, tetapi juga persoalan kemanusiaan yang menuntut respons moral dari masyarakat global.

Dalam konteks ini, Idul Fitri dapat dimaknai ulang sebagai momentum untuk merefleksikan posisi kita sebagai bagian dari komunitas global, apakah kita hanya menjadi penonton, atau turut menghidupkan nilai-nilai solidaritas yang diajarkan oleh agama.

Mungkin yang perlu kita tanyakan bukan lagi “apakah kita telah menang?”, tetapi “kemenangan seperti apa yang ingin kita wujudkan?”

Jika Ramadhan adalah proses pembentukan diri, maka Idul Fitri seharusnya menjadi titik awal untuk menghadirkan nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan nyata.

Sebab di tengah dunia yang masih diliputi konflik dan ketidakadilan, kemenangan sejati barangkali bukan terletak pada perayaan, melainkan pada keberanian untuk tidak menjadi acuh.

Sesungguhnya harapan kemanusiaan yang tertinggi wujud kemenangan adalah suasana perdamaian di hari lebaran yang membahagiakan umat manusia, semoga.(*)

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved