Opini
Mencari Fitrah diantara Tanah yang Hilang dan Dunia Algoritma
Idul Fitri mengingatkan kita bahwa perubahan selalu dimulai dari refleksi, tetapi tidak boleh berhenti di sana.
Dalam konteks ini, petani menghadapi ancaman baru. Bukan hanya kehilangan tanah, tetapi juga kehilangan pengetahuan dan narasi. Pengetahuan lokal yang selama ini menjadi dasar praktik pertanian berisiko tergeser oleh sistem berbasis algoritma yang tidak selalu memahami konteks lokal.
Pengalaman hidup yang kaya bisa direduksi menjadi data yang dingin dan terlepas dari makna.
Lebih jauh, AI juga mempengaruhi cara gerakan sosial bekerja. Solidaritas yang dulu dibangun melalui interaksi langsung kini berhadapan dengan dunia digital yang serba cepat. Dukungan bisa datang dalam bentuk klik dan komentar, tetapi tidak selalu berlanjut pada tindakan nyata.
Ada risiko bahwa gerakan sosial kehilangan kedalaman, berubah menjadi sekadar representasi simbolik tanpa kekuatan transformasi.
Situasi ini menciptakan krisis yang lebih dalam: krisis kesadaran. Kita hidup di tengah banjir informasi, tetapi sering kali kehilangan kemampuan untuk memahami secara kritis. Realitas tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh pengalaman langsung, tetapi juga oleh bagaimana ia dikonstruksi dan disebarkan melalui teknologi.
Dalam kondisi seperti ini, refleksi Idul Fitri menjadi semakin penting. Kembali ke fitrah harus dimaknai sebagai upaya untuk merebut kembali kesadaran yang otentik—kesadaran yang tidak sepenuhnya ditentukan oleh sistem, tetapi berakar pada pengalaman hidup dan nilai kemanusiaan.
Pemikiran Paulo Freire tentang kesadaran kritis menjadi relevan di sini. Ia menekankan bahwa pembebasan hanya mungkin terjadi ketika manusia mampu memahami realitasnya secara reflektif dan bertindak untuk mengubahnya. Tanpa kesadaran seperti ini, gerakan sosial berisiko kehilangan arah atau bahkan terserap dalam sistem yang mereka lawan.
Bagi gerakan sosial, tantangan ke depan bukan hanya mempertahankan tanah, tetapi juga mempertahankan makna. Bagaimana menjaga agar perjuangan tetap berakar pada pengalaman nyata, di tengah tekanan teknologi yang cenderung menyeragamkan? Bagaimana memastikan bahwa solidaritas tidak hanya menjadi simbol, tetapi tetap hidup sebagai praktik?
Jawabannya tidak terletak pada penolakan total terhadap teknologi, tetapi pada sikap kritis dalam menggunakannya. AI bisa menjadi alat, tetapi tidak boleh menjadi penentu arah. Gerakan sosial harus mampu memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan otonomi dan kesadaran.
Pada akhirnya, Idul Fitri mengingatkan kita bahwa perubahan selalu dimulai dari refleksi, tetapi tidak boleh berhenti di sana. Kesucian bukan tujuan akhir, melainkan titik awal untuk membangun kehidupan yang lebih adil.
Di antara tanah yang hilang dan dunia yang semakin dikuasai algoritma, pertanyaan mendasarnya tetap sama: apakah kita masih memiliki keberanian untuk berpihak pada keadilan?
Jika Idul Fitri benar-benar dimaknai sebagai kembali ke fitrah, maka ia seharusnya melahirkan keberanian itu—keberanian untuk melihat realitas dengan jernih, dan keberanian untuk mengubahnya.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Fajar-Nur-Alamsyah.jpg)