Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Mencari Fitrah diantara Tanah yang Hilang dan Dunia Algoritma

Idul Fitri mengingatkan kita bahwa perubahan selalu dimulai dari refleksi, tetapi tidak boleh berhenti di sana.

Tayang:
Editor: Muh Hasim Arfah
Dok Fajar
Salah satu pengurus KPA Sulawesi Selatan, Fajar Nur Alamsyah, SH. 

Fajar Nur Alamsyah

Aktivis KPAI Sulawesi Selatan

TRIBUN-TIMUR.COM- Setiap Idul Fitri, kita diajak kembali ke fitrah. Sebuah ajakan yang tampak sederhana, tetapi sesungguhnya mengandung makna yang dalam: kembali pada kejujuran sebagai manusia.

Bukan hanya jujur dalam relasi personal, tetapi juga jujur dalam melihat realitas sosial di sekitar kita. 

Sebab manusia tidak hanya membutuhkan pengampunan, tetapi juga keadilan. Namun, bagi banyak komunitas pedesaan, terutama petani, Idul Fitri tidak selalu hadir sebagai momen kelegaan. Ia sering datang bersama kegelisahan yang belum selesai: konflik agraria yang berlarut, harga hasil panen yang tidak berpihak, serta ruang hidup yang terus menyempit.

Dalam situasi seperti ini, makna “kembali suci” menjadi terasa problematis. Suci tidak bisa dilepaskan dari kondisi hidup yang nyata. Ketika ketidakadilan terus berlangsung, maka kesucian kehilangan pijakan sosialnya.

Di titik ini, Idul Fitri seharusnya dibaca lebih dari sekadar ritual keagamaan. Ia adalah momentum refleksi kolektif. Sebuah kesempatan untuk melihat kembali hubungan kita—tidak hanya dengan sesama individu, tetapi juga dengan struktur sosial yang membentuk kehidupan. Ketimpangan agraria, misalnya, bukan sekadar persoalan ekonomi.

Ia adalah persoalan moral.

Baca juga: Guru Besar Hukum Nikah UIN Alauddin Jadi Khatib Idulfitri di Masjid Agung Pangkep

Ketika akses terhadap tanah begitu timpang, maka yang terjadi bukan hanya kesenjangan material, tetapi juga perampasan martabat.

Dalam perspektif kritis, persoalan ini telah lama dibahas oleh Karl Marx, yang menunjukkan bahwa konflik sosial berakar pada relasi produksi yang tidak adil. Tanah, adalah sumber kehidupan sekaligus sumber konflik.

Siapa yang menguasainya, dia yang menentukan arah kehidupan banyak orang. Maka perjuangan petani bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga soal hak untuk hidup secara layak dan bermartabat. Namun, realitas gerakan sosial tidak bisa dijelaskan hanya dengan faktor material.

Ada dimensi lain yang tidak kalah penting: kesadaran moral. Banyak petani bertahan bukan karena mereka memiliki kekuatan ekonomi, tetapi karena mereka memiliki keyakinan bahwa perjuangan mereka benar. Ada rasa keadilan yang menjadi dasar gerakan, ada solidaritas yang mengikat mereka dalam situasi sulit.

Di sinilah Idul Fitri menemukan relevansinya. Ia bukan hanya tentang memaafkan, tetapi tentang memulihkan martabat.

Memaafkan tidak berarti melupakan ketidakadilan, melainkan membuka ruang untuk melihat lebih jernih: mana yang merupakan kesalahan manusia, dan mana yang merupakan ketidakadilan sistemik yang harus dilawan.

‘Kesadaran’ dan Kuasa AI

Kita hidup di era di mana teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI), mulai memainkan peran besar dalam membentuk realitas. Jika sebelumnya kekuasaan banyak ditentukan oleh penguasaan tanah dan modal, kini ia juga ditentukan oleh penguasaan data dan informasi.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved