Opini
Muhasabah ke-27: Jangan Sibuk Mengejar Lailatul Qadr, Tapi Kehilangan Allah
Kita hidup dalam siklus yang nyaris serupa: berharap, lalai, terjatuh, menyesal, lalu kembali berharap.
Oleh: Salman Ahmad
JUDUL ini mungkin terdengar klise.
Namun sesungguhnya hidup kita pun tak pernah benar-benar lepas dari pengulangan.
Kita hidup dalam siklus yang nyaris serupa: berharap, lalai, terjatuh, menyesal, lalu kembali berharap.
Dan justru di situlah letak pentingnya muhasabah.
Ia hadir bukan selalu untuk memberi sesuatu yang baru, tetapi untuk menyadarkan sesuatu yang lama telah kita tahu, namun lama pula tetap kita abaikan.
Di malam-malam terakhir Ramadhan, seperti saat ini, kita terkadang terlalu sibuk mencari Lailatul Qadr, sampai lupa mencari Pemilik Lailatul Qadr.
Kita mulai menebak-nebak malam. Kita memperhatikan tanda-tanda.
Kita menunggu suasana yang terasa berbeda.
Kita berharap ada getaran yang lebih dalam, langit yang terasa lebih hening, hati yang lebih berdebar, atau air mata yang lebih mudah jatuh.
Atau ada yang bahkan berharap, datangnya Cahaya materil, masuk ke dalam dadanya. Kerinduan kepada malam mulia adalah bagian dari iman.
Tetapi ada satu hal yang perlu dijaga: jangan sampai ibadah kita berubah menjadi semacam perburuan pengalaman spiritual, sementara inti dari semuanya justru terlewatkan.
Yang paling agung dari Lailatul Qadr bukanlah sensasi bahwa “malam itu terasa istimewa”, melainkan kesempatan untuk benar-benar mendekat kepada Allah.
Bukan soal apakah kita berhasil menandai malamnya, tetapi apakah malam-malam itu berhasil menandai hati kita.
Bukan soal apakah kita dapat mengenali tanda di langit, tetapi apakah ada cahaya yang mulai menyala di dalam jiwa.
| Katto Bokko: Meneropong Masa Depan Petani Muda Indonesia |
|
|---|
| Ketika Laki-laki Memilih Diam: Kerentanan Bunuh Diri dalam Perspektif Emile Durkheim |
|
|---|
| Padepokan Saung Taraju Jumantara dan Rapuhnya Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan |
|
|---|
| Kesadaran Kritis: Fondasi yang Lemah dalam Demokrasi Indonesia |
|
|---|
| Makassar Harus Menyelesaikan Sampahnya Sendiri, Dimulai dari Lorong |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Oleh-Salman-Ahmad-Alumnus-IMMIM-Pakar-Ikatan-Alumni-Timur-Tengah.jpg)