Opini Mustamin Raga
Pengamat, Mata Demokrasi yang Tidak Boleh Dipejamkan
pengamat tidak menentukan arah pelayaran. Tetapi ia menyalakan lampu agar kapal tidak menabrak karang.
Demokrasi tidak membutuhkan kesunyian. Demokrasi membutuhkan percakapan.
Tanggung Jawab Pengamat
Tentu saja, pengamat juga tidak boleh sembarangan. Menjadi pengamat bukan sekadar berbicara keras atau tampil sering di media. Pengamat yang baik memiliki tiga fondasi utama: pengetahuan, integritas, dan keberanian. Pengetahuan membuat analisanya tidak dangkal.
Integritas menjaga agar ia tidak menjadi alat kepentingan politik tertentu.
Keberanian membuatnya tetap jujur ketika mengatakan sesuatu yang mungkin tidak menyenangkan bagi kekuasaan.
Tanpa tiga hal itu, pengamat bisa berubah menjadi sekedar komentator oportunistik.
Di sisi lainnya, kekurangan pada sebagian pengamat tidak boleh dijadikan alasan untuk membatasi seluruh ruang pengamatannya. Sama seperti adanya berita buruk tidak boleh menjadi alasan untuk membungkam seluruh pers.
Mata yang Tidak Boleh Dipejamkan
Demokrasi yang sehat membutuhkan lebih dari sekedar pemilu setiap periode tertentu. Demokrasi membutuhkan warga negara yang berpikir, berbicara, dan saling mengingatkan. Di antara mereka, para pengamat memainkan peran yang unik.
Mereka tidak memegang jabatan. Mereka tidak memiliki kekuasaan formal.
Tetapi mereka memiliki sesuatu yang tidak kalah penting: kemerdekaan untuk berpikir dan berbicara. Kemerdekaan itulah yang membuat demokrasi tetap bernapas.
Karena tanpa pengamat, kekuasaan berjalan tanpa cermin. Tanpa kritik, kebijakan berjalan tanpa pengingat.
Dan tanpa ruang diskusi yang bebas, demokrasi perlahan berubah menjadi sekadar prosedur administratif yang kehilangan rohnya.
Oleh karena itu, maraknya pengamat bukanlah ancaman bagi negara.
Ia justru tanda bahwa kesadaran publik masih hidup. Ia adalah bukti bahwa masih ada orang-orang yang bersedia meluangkan waktu, pikiran, dan keberanian untuk memperhatikan arah negeri ini.
Selama masih ada orang-orang yang mengamati dengan jujur, berbicara dengan ilmu, dan mengkritik dengan niat memperbaiki, demokrasi akan tetap memiliki sesuatu yang sangat penting: sepasang mata yang tidak boleh dipaksa terpejam oleh siapa pun.(*)
Gerhana Alauddin, 15 Maret 2026
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/14032026_MustaminRaga.jpg)