Opini Mustamin Raga
Pengamat, Mata Demokrasi yang Tidak Boleh Dipejamkan
pengamat tidak menentukan arah pelayaran. Tetapi ia menyalakan lampu agar kapal tidak menabrak karang.
Oleh: Mustamin Raga
Pengamat Sosial-Politik
TRIBUN-TIMUR.COM - Demokrasi adalah sebuah rumah besar yang pintu dan jendelanya harus selalu terbuka. Udara harus bebas keluar masuk. Cahaya harus leluasa menyentuh setiap sudutnya. Jika rumah itu terlalu rapat ditutup, terlalu banyak tirai ditarik, maka yang tersisa bukan lagi rumah demokrasi, melainkan bangunan kekuasaan yang remang dan pengap. Di dalam rumah demokrasi itu, ada satu kelompok kecil yang seringkali disalahpahami, yakni para pengamat.
Banyak orang mengira pengamat hanyalah komentator. Orang yang pekerjaannya sekedar berbicara di televisi, menulis opini di media, atau memberi komentar cepat ketika sebuah kebijakan muncul. Padahal pengamat yang sesungguhnya bukanlah sekadar pengisi ruang diskusi.
Pengamat adalah pekerja intelektual. Ia memiliki basis keilmuan tertentu. Ia berdiri di atas disiplin ilmu—politik, ekonomi, hukum, sosial, lingkungan, humaniora atau kebijakan publik. Ia mengamati jalannya pemerintahan, membaca arah kebijakan, mencermati dinamika kekuasaan, lalu mencoba menjelaskannya kepada publik dengan bahasa yang dapat dipahami oleh masyarakat luas.
Dalam arti tertentu, pengamat adalah juru tafsir negara. Negara berbicara melalui kebijakan. Tetapi kebijakan seringkali ditulis dengan bahasa teknokratis yang tidak selalu mudah dipahami oleh masyarakat. Di situlah pengamat hadir. Ia mengurai, menjelaskan, membandingkan, menilai, dan kadang juga mempertanyakan.
Kadang ia memberikan apresiasi ketika kebijakan negara berjalan dengan baik. Kadang pula ia melontarkan kritik ketika kebijakan terlihat menyimpang dari kepentingan publik. Kritik itu bisa lembut.
Bisa juga tajam. Semua tergantung pada gaya, integritas, dan keberanian masing-masing pengamat. Namun semua itu tujuan utamanya bukan untuk menjatuhkan kekuasaan. Tujuan utamanya adalah memberikan pencerahan kepada publik—membuka sisi-sisi yang mungkin tidak tampak oleh mata masyarakat.
Karena dalam dunia modern, kebijakan negara seringkali begitu kompleks sehingga publik membutuhkan seseorang yang mampu menjelaskannya dengan terang.
Pengamat dan Nafas Demokrasi
Dalam teori politik modern, keberadaan orang-orang yang mengamati kekuasaan bukan sekedar fenomena sosial biasa. Ia merupakan bagian dari mekanisme demokrasi itu sendiri. Filsuf politik Jerman, Jürgen Habermas, menyebut adanya ruang publik—sebuah arena tempat masyarakat berdiskusi secara rasional tentang kebijakan negara. Dalam ruang publik itulah berbagai gagasan dipertukarkan, diuji, dan diperdebatkan.
Tanpa ruang publik, demokrasi hanya menjadi prosedur administratif: pemilu, pelantikan, dan pergantian kekuasaan.
Tetapi dengan ruang publik yang hidup, demokrasi berubah menjadi percakapan nasional yang terus berlangsung.
Di ruang percakapan itulah para pengamat memainkan peran penting. Mereka adalah salah satu penggerak diskursus publik. Mereka membantu masyarakat memahami arah kekuasaan.
Dalam perspektif yang lain, pemikir liberal Inggris John Stuart Mill pernah mengingatkan bahwa kebebasan berpendapat bukan hanya hak individu, tetapi juga alat masyarakat untuk menemukan kebenaran. Bahkan pendapat yang keliru sekalipun tetap penting, karena melalui perdebatanlah kebenaran dapat diuji dan diperkuat. Artinya, demokrasi tidak tumbuh dari keseragaman suara.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/14032026_MustaminRaga.jpg)