Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Mustamin Raga

Pengamat, Mata Demokrasi yang Tidak Boleh Dipejamkan

pengamat tidak menentukan arah pelayaran. Tetapi ia menyalakan lampu agar kapal tidak menabrak karang.

Tayang:
Editor: AS Kambie
Tribun-timur.com/Dok.Tribun
PENULIS OPINI - Foto terbaru Mustamin Raga, dikirim ke Tribun-Timur.com pada 15 Maret 2026. Mustamin Raga aktif menulis opini Tribun Timur 

Pernyataan itu muncul di tengah banyaknya komentar dan kritik terhadap sejumlah kebijakan pemerintah. Kata penertiban tentu terdengar tidak terlalu keras. Ia bahkan bisa diartikan sebagai upaya menata agar diskursus publik lebih tertib dan bertanggung jawab.

Namun dalam politik, kata-kata sering memiliki ruang tafsir yang luas. Apa yang disebut penertiban bisa saja berarti penguatan etika diskusi. Tetapi dalam praktek kekuasaan, penertiban juga bisa berubah menjadi pembatasan, pengawasan, atau bahkan intimidasi.

Sejarah politik dunia mengajarkan bahwa pembatasan terhadap suara kritis seringkali dimulai dengan istilah yang terdengar sederhana. Mulanya hanya “penertiban”. Lalu berubah menjadi “pengawasan”. Kemudian berkembang menjadi “pembatasan”. Dan dalam beberapa pengalaman negara lain yang lebih gelap, ia bahkan berujung pada pembungkaman.

Tentu saja kita semua berharap negeri ini tidak pernah berjalan ke arah sana.

Karena demokrasi Indonesia lahir dari perjuangan panjang melawan pembungkaman.

Pengamat sebagai Penjaga Kesadaran Publik

Dalam ekosistem demokrasi modern, pengamat sebenarnya bukanlah lawan pemerintah. Ia adalah mitra kritis.

Pengamat membantu publik memahami apa yang sedang terjadi. Ia menjelaskan kebijakan, menilai implikasinya, dan memberikan perspektif yang mungkin tidak terlihat oleh masyarakat umum.

Kadang pengamat memuji kebijakan yang tepat. Kadang ia mengingatkan ketika arah kebijakan tampak keliru. Dalam kedua peran itu, pengamat sebenarnya sedang melakukan satu hal yang sangat penting: menjaga kesadaran publik. Karena kekuasaan yang tidak diawasi oleh kesadaran publik berpotensi kehilangan arah.

Seorang pengamat yang jujur bekerja seperti penjaga mercusuar. Ia tidak mengendalikan kapal. Ia tidak menentukan arah pelayaran. Tetapi ia menyalakan lampu agar kapal tidak menabrak karang.

Maraknya Pengamat: Tanda Demokrasi Tumbuh

Ada satu kesalahpahaman yang sering muncul: semakin banyak pengamat dianggap sebagai tanda bahwa negara sedang gaduh. Padahal justru sebaliknya.

Dalam ilmu politik, maraknya pengamat adalah indikator bahwa ruang publik sedang hidup.

Di negara-negara dengan demokrasi matang, pengamat datang dari berbagai latar belakang: kampus, lembaga riset, organisasi masyarakat sipil, hingga media independen. Mereka berbeda pandangan.

Sebagian kritis keras. Sebagian moderat. Sebagian bahkan simpatik terhadap pemerintah. Tetapi keberagaman itu bukan masalah. Justru dari perbedaan itulah publik mendapatkan gambaran yang lebih utuh.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved