Opini Mustamin Raga
Pengamat, Mata Demokrasi yang Tidak Boleh Dipejamkan
pengamat tidak menentukan arah pelayaran. Tetapi ia menyalakan lampu agar kapal tidak menabrak karang.
Demokrasi tumbuh dari keragaman pandangan. Oleh karena itu, semakin banyak orang yang mengamati kekuasaan dan berbicara tentangnya, semakin sehat sebuah demokrasi.
Kritik: Vitamin yang Sering Disalahpahami
Kekuasaan memang seringkali memiliki hubungan yang rumit dengan kritik.
Kritik adalah cermin. Dan tidak semua orang suka bercermin. Ketika sebuah kebijakan dikritik, seringkali kritik itu dipersepsikan sebagai serangan. Padahal dalam tradisi politik modern, kritik justru dipandang sebagai mekanisme koreksi dini.
Filsuf Prancis Michel Foucault pernah menulis bahwa kekuasaan memiliki kecenderungan alami untuk memperluas dirinya. Tanpa pengawasan sosial, tanpa kritik intelektual, kekuasaan dapat tumbuh terlalu besar hingga kehilangan kesadaran akan batas-batasnya sendiri.
Karena itu, kritik bukanlah musuh negara. Kritik adalah rem moral bagi kekuasaan. Ia bekerja seperti alarm kebakaran: lebih baik berbunyi terlalu cepat daripada terlambat ketika api sudah membesar.
Sayangnya, dalam banyak pengalaman politik di berbagai negara, kritik sering dianggap sebagai gangguan. Ia dilihat sebagai suara sumbang yang mengganggu harmoni kekuasaan.
Padahal demokrasi bukan paduan suara yang semua nadanya harus sama.
Demokrasi adalah orkestra yang penuh variasi suara.
Ada yang keras.
Ada yang lirih.
Ada yang mengingatkan.
Dan dari semua suara itu, publik dapat menilai mana yang paling masuk akal.
Ketika Kekuasaan Ingin “Menertibkan
Belakangan ini, percakapan tentang pengamat kembali mencuat setelah Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, menyampaikan rencana untuk melakukan “penertiban terhadap para pengamat.”
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/14032026_MustaminRaga.jpg)