Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Mencari Lailatul Qadr atau Melupakan Al-Qur’an?

Orang-orang yang sebelumnya jarang terlihat dalam salat berjamaah tiba-tiba hadir dengan semangat luar biasa.

Tayang:
Editor: Sudirman
Istimewa
La Ode Ismail Ahmad Petugas Haji / Dosen IAIN 

Oleh: La Ode Ismail Ahmad

Ketua Prodi Magister Ilmu Hadis PPs UINAM

TRIBUN-TIMUR.COM - SETIAP memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan, pemandangan yang sama selalu berulang di berbagai tempat.

Masjid-masjid mendadak penuh.

Orang-orang yang sebelumnya jarang terlihat dalam salat berjamaah tiba-tiba hadir dengan semangat luar biasa.

Sebagian membawa mushaf, sebagian lain membawa bantal dan selimut untuk i‘tikaf hingga sahur. Tujuannya jelas: mencari Lailatul Qadr, malam yang diyakini lebih baik dari seribu bulan.

Fenomena ini tentu saja menggembirakan. Ia menunjukkan bahwa kesadaran spiritual masyarakat masih hidup.

Ada kerinduan untuk mendekat kepada Tuhan, ada keinginan untuk meraih pahala yang besar.

Namun di balik euforia spiritual itu, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan secara kritis: apakah kita benar-benar memahami hakikat Lailatul Qadr, atau kita hanya mengejar bayangan pahala yang besar?

Selama ini Lailatul Qadr sering dipahami secara sangat sederhana: sebuah malam misterius yang tersembunyi di antara sepuluh malam terakhir Ramadan.

Barang siapa yang beruntung menemukannya, maka pahala ibadahnya akan dilipatgandakan seperti beribadah selama seribu bulan.

Akibatnya, fokus utama umat pun bergeser pada “strategi menemukan malam tersebut”: memperbanyak salat malam, zikir, doa, dan i‘tikaf.

Semua praktik ini tentu memiliki dasar yang kuat dalam tradisi Islam. Nabi Muhammad memang menganjurkan umatnya untuk menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadan dan melakukan i‘tikaf.

Namun masalah muncul ketika pemahaman tentang Lailatul Qadr direduksi hanya menjadi perburuan pahala yang bersifat musiman.

Seolah-olah pesan yang berkembang secara tidak sadar di tengah masyarakat adalah: jika ingin mendapatkan pahala besar, cukup fokus beribadah pada sepuluh malam terakhir Ramadan. Sementara sebelas bulan lainnya dapat berjalan dengan ritme religius yang biasa-biasa saja.

Cara pandang seperti ini secara tidak langsung melahirkan paradoks spiritual. Di satu sisi, kita sangat antusias memburu satu malam yang nilainya setara seribu bulan.

Di sisi lain, kita sering lalai menghidupkan sebelas bulan kehidupan yang nyata dengan nilai-nilai yang diajarkan oleh Al-Qur’an.

Padahal jika kita kembali kepada dalil utama tentang adanya Lailatul Qadr yakni Surah Al-Qadr, kemuliaan malam itu dijelaskan dengan sangat jelas sejak ayat pertama: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam Lailatul Qadr.”

Ayat ini menunjukkan bahwa pusat kemuliaan malam tersebut bukanlah aktivitas ibadah manusia, melainkan peristiwa turunnya Al-Qur’an.

Dengan kata lain, malam itu menjadi mulia karena pada saat itulah wahyu Ilahi hadir ke dalam sejarah manusia. Artinya, kemuliaan Lailatul Qadr pada dasarnya berakar pada kehadiran Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup.

Jika demikian, pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukan sekadar: malam mana yang merupakan Lailatul Qadr? Tetapi justru: seberapa jauh kita hidup bersama Al-Qur’an yang diturunkan pada malam itu?

Ironisnya, di tengah semangat mencari Lailatul Qadr, Al-Qur’an sering kali justru kehilangan posisinya sebagai pusat kehidupan spiritual umat.

Mushaf dibaca secara intens pada malam-malam tertentu, tetapi pesan moralnya jarang benar-benar mengubah cara berpikir, cara bekerja, dan cara memperlakukan sesama manusia.

Inilah paradoks yang perlu kita renungkan secara jujur. Kita ingin mendapatkan pahala dari malam turunnya Al-Qur’an, tetapi tidak selalu siap menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup sehari-hari.

Padahal dalam logika spiritual yang lebih mendalam, kemuliaan malam itu bukan sekadar karena waktunya, melainkan karena dialog antara langit dan bumi yang terjadi melalui wahyu.

Allah berbicara kepada manusia melalui firman-Nya, dan manusia diharapkan menjawab panggilan itu dengan kehidupan yang lebih bermakna.

Dalam perspektif ini, i‘tikaf sebenarnya bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana. Ia adalah latihan untuk memutus sementara keterikatan dengan rutinitas dunia agar manusia memiliki ruang batin untuk kembali mendengar suara wahyu.

Namun ketika i‘tikaf berubah menjadi sekadar ritual tahunan yang berakhir tanpa perubahan cara hidup, maka esensi spiritualnya menjadi sangat dangkal.

Ia hanya menjadi pengalaman religius sesaat yang tidak meninggalkan jejak dalam kehidupan setelah Ramadan.

Lebih jauh lagi, pemahaman yang terlalu berorientasi pada “malam seribu bulan” berpotensi melahirkan mentalitas religius yang transaksional.

Ibadah dipandang sebagai cara tercepat untuk mengumpulkan pahala dalam jumlah besar, bukan sebagai proses panjang membentuk kedekatan dengan Tuhan dan integritas moral dalam kehidupan.

Padahal pesan besar Al-Qur’an justru mengarah pada transformasi kehidupan yang berkelanjutan: keadilan sosial, kejujuran, kepedulian terhadap yang lemah, serta kesadaran akan tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi.

Jika Al-Qur’an benar-benar dipahami sebagai pusat kemuliaan Lailatul Qadr, maka logika spiritualnya menjadi sangat berbeda.

Kemuliaan itu tidak hanya terbuka pada satu malam yang tersembunyi, tetapi dapat diraih oleh siapa pun yang menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya dalam kehidupannya.

Membaca Al-Qur’an dengan kesadaran. Merenungkan maknanya. Membiarkan ayat-ayatnya menegur keserakahan, kesombongan, dan ketidakadilan dalam diri kita. Di situlah sebenarnya pintu kemuliaan itu terbuka.

Dengan demikian, kritik terhadap praktik pencarian Lailatul Qadr bukanlah penolakan terhadap i‘tikaf atau ibadah malam Ramadan.

Kritik ini justru ingin mengembalikan orientasi spiritual umat kepada inti pesan yang lebih mendasar: Lailatul Qadr adalah momentum turunnya Al-Qur’an, bukan sekadar momentum perburuan pahala.

Jika umat Islam benar-benar ingin meraih kemuliaan yang dijanjikan oleh malam tersebut, maka jalan yang paling masuk akal bukan hanya menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadan, tetapi juga menghidupkan Al-Qur’an dalam sebelas bulan kehidupan setelahnya.

Karena pada akhirnya, kemuliaan tidak hanya ditemukan pada satu malam yang misterius. Kemuliaan hadir ketika manusia mampu menjadikan firman Tuhan sebagai cahaya yang menerangi seluruh perjalanan hidupnya.(*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved