Mutiara Ramadhan 2026
Integrasi Secangkir Kopi Maqasid Based
Banyak orang memahami Islam dengan cara yang sangat sederhana: kembali saja kepada Al-Qur’an dan Hadis.
Pendekatan integratif ini sekaligus menjadi kritik terhadap cara beragama yang terlalu menyederhanakan agama.
Agama bukan sekadar kumpulan dalil yang dihafal, tetapi sistem nilai yang harus dipahami, dicerna, dan dihidupkan.
Menyederhanakan agama dengan slogan “cukup kembali ke Al-Qur’an dan Hadis” tanpa metodologi yang memadai sama seperti menyajikan bubuk kopi kering kepada orang yang haus.
Pada akhirnya, beragama secara dewasa menuntut kesediaan untuk meramu.
Meramu antara teks dan konteks. Meramu antara idealitas dan realitas.
Meramu antara kesetiaan pada wahyu dan kepekaan terhadap problem kemanusiaan.
Dari proses peramuan inilah lahir Islam yang tidak hanya benar secara teks, tetapi juga relevan, menenangkan, dan membebaskan.
Seperti secangkir kopi yang diracik dengan baik: hangat, nikmat, dan memberi energi bagi kehidupan.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-02-27-Prof-Dr-Abdul-Rauf-M-Amin-MA-Guru-Besar-UIN-Alauddin.jpg)