Mutiara Ramadhan 2026
Integrasi Secangkir Kopi Maqasid Based
Banyak orang memahami Islam dengan cara yang sangat sederhana: kembali saja kepada Al-Qur’an dan Hadis.
Oleh: Prof Dr Abd Rauf M Amin MA
Guru Besar UIN Alauddin Makassar
TRIBUN-TIMUR.COM - Banyak orang memahami Islam dengan cara yang sangat sederhana: kembali saja kepada Al-Qur’an dan Hadis.
Ungkapan ini terdengar indah, bahkan terasa sangat religius.
Namun, di balik kesederhanaannya, tersembunyi persoalan besar.
Sebab, realitas menunjukkan bahwa Al-Qur’an dan Hadis tidak pernah hadir dalam ruang hampa.
Keduanya selalu dipahami, ditafsirkan, dan diterapkan oleh manusia yang hidup dalam konteks sosial, budaya, sejarah, dan problematika yang terus berubah.
Di sinilah pentingnya kita membangun cara pandang integratif terhadap agama.
Untuk melogiskan hal ini, mari kita gunakan ilustrasi sederhana: secangkir kopi.
Secangkir kopi tidak pernah hanya berisi bubuk kopi. Ia terdiri dari kopi, air, dan sering kali gula.
Ketiganya harus bercampur dan diaduk agar menghasilkan rasa yang utuh.
Air tanpa kopi hanyalah air. Kopi tanpa air tidak bisa diminum.
Gula tanpa keduanya tidak bermakna apa-apa.
Demikian pula cara kita memahami Islam.
Pemahaman keislaman sejatinya merupakan kombinasi antara wahyu, logika, realitas, dan prinsip-prinsip dasar Islam (Maqasid-Based).
Wahyu adalah sumber utama dan fondasi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-02-27-Prof-Dr-Abdul-Rauf-M-Amin-MA-Guru-Besar-UIN-Alauddin.jpg)