Mutiara Ramadhan 2026
Integrasi Secangkir Kopi Maqasid Based
Banyak orang memahami Islam dengan cara yang sangat sederhana: kembali saja kepada Al-Qur’an dan Hadis.
Tetapi wahyu tidak berbicara sendiri.
Ia membutuhkan logika untuk dipahami, realitas untuk dikontekstualkan, serta prinsip-prinsip Islam seperti keadilan, kemaslahatan, dan kasih sayang sebagai bingkai etiknya.
Masalahnya, sebagian orang menyederhanakan konstruksi ini dengan menganggap bahwa cukup mengutip ayat atau hadis, maka persoalan otomatis selesai.
Padahal, satu teks bisa melahirkan beragam pemahaman tergantung konteksnya.
Jika teks dipisahkan dari realitas, ia berpotensi melahirkan kesimpulan yang kaku, bahkan bertentangan dengan tujuan dasar agama itu sendiri.
Di sinilah teori “kombinasi ala secangkir kopi” menjadi penting.
Kombinasi ini bukan bersifat kuantitatif, misalnya 50 persen wahyu, 30 persen logika, dan 20 persen realitas.
Kombinasi ini bersifat kualitatif.
Artinya, keempat unsur tersebut harus hadir secara proporsional sesuai kebutuhan persoalan yang dihadapi.
Seperti meracik kopi: ada yang suka manis, ada yang suka pahit, ada yang suka sedang.
Namun apa pun seleranya, kopi, air, dan gula tetap harus ada.
Contoh sederhana bisa kita lihat dalam persoalan muamalah kontemporer.
Banyak transaksi modern tidak dikenal secara eksplisit di masa turunnya wahyu.
Jika kita hanya mencari teks literalnya, maka hampir semua praktik baru akan ditolak.
Tetapi dengan menggabungkan wahyu, logika, realitas ekonomi, dan prinsip keadilan serta kemaslahatan, Islam justru tampil adaptif tanpa kehilangan identitasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-02-27-Prof-Dr-Abdul-Rauf-M-Amin-MA-Guru-Besar-UIN-Alauddin.jpg)