Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Kilas Tokyo

Pelayanan Sepenuh Hati

“Kami sudah dibayar untuk pekerjaan ini. Melayani sepenuh hati sudah tugas kami” ternyata sang pelayan menolak halus. 

Tayang:
Tribun-timur.com
KILAS TOKYO - Muh. Zulkifli Mochtar, Diaspora Indonesia di Tokyo, Ketua ICMI Jepang. 

Oleh: Muh. Zulkifli Mochtar
Diaspora Indonesia di Tokyo, Ketua ICMI Jepang

TRIBUN-TIMUR.COM - Seorang teman cerita pengalaman menarik saat berwisata ke Jepang.

Selesai breakfast disebuah cafe kecil di Osaka, saat membayar – seorang rekannya sengaja tidak ingin mengambil uang kembalian.

Niatnya memberikan saja ke pelayan kafe karena sangat terkesan dilayani baik dan sepenuh hati.

“Kami sudah dibayar untuk pekerjaan ini. Melayani sepenuh hati sudah tugas kami” ternyata sang pelayan menolak halus. 

Budaya memberi - menerima tip memang tidak umum di Jepang.

"Banyak pekerja melakukan pekerjaan mereka dengan bangga. Ucapan 'oishikatta' (rasa makanannya enak) atau 'gochiso sama' (terima kasih sudah menyiapkan makanan) adalah penghargaan lebih dari cukup. Tidak selalu uang harus berbicara " ujar James Mundy operator tur Inside Japan Tours berbasis di Inggris, seperti ditulis Mike MacEacheran di BBC News Juli lalu.

Dari kultur kerja ini terlahir kata ‘Omotenashi’ yang menjadi ikon tourism Jepang saat ini.

Dalam bahasa inggris bisa diartikan sebagai ‘the spirit of full service and hospitality’, sebuah konsep melayani tamu dengan keramahan, sepenuh hati dan detail.

Makanya, dimana saja terlihat staf melemparkan salam ramah sembari membungkuk badan kepada anda.

Selain itu, juga ada budaya kerja Jepang disebut Ho-Ren-So.

Mungkin sudah pernah kita dengar, Ho adalah singkatan Hokoku (selalu melaporkan), Ren dari kata Renraku (senantiasa menginformasikan) dan So dari kata Sodan (Selalu konsultasi).

Ini tidak sekedar slogan kosong untuk sekedar diucapkan, tapi saya merasakan betul bagaimana implementasinya saat kerja.

Dari level pekerja paling bawah pun punya tanggung jawab melakukan ini.

Jepang di era bubble economy 1960-1990 pernah punya reputasi jam kerja terpanjang di dunia.

Lalu Lahir amandemen undang-undang ketenagakerjaan pemerintah diawal 1990, semacam modernisasi sistem cara kerja ‘hataraki kata kaikaku’.

Didalamnya termasuk pembatasan jam kerja berlebihan menjadi 1.800 jam agar tidak mengganggu kesehatan.

Juga agar pekerja mereka punya cukup waktu banyak untuk melayani keluarga.

‘Sayonara to Long Work Culture’ mungkin kalimat tepat.

Meski itu juga bukan hal mudah bagi masyarakat Jepang yang terlanjur punya working culture unik.

Aktualnya, banyak pekerja masih merasa berkewajiban tetap memegang teguh loyalitas tim secara keseluruhan.

Ujung ujungnya, banyak pekerja yang tidak mengambil cuti tahunannya.

“Juga ada gap jelas antar generasi” menurut A. Murai, Head PR Expedia Jepang ditulis WorkLife BBC.

Jam kerja panjang tidak mutlak lagi. Kata kunci lebih penting adalah kerja efisien, tepat, tuntas.

Juga dengan etos kerja tinggi. Etos kerja lebih terkait kepada ketekunan, loyalitas, sikap, dedikasi juga kedisiplinan.

Etos kerja saja pun tidak cukup. Moralitas etika kerja juga penting: ditengah berbagai tindakan korupsi, kolusi, nepotisme, penipuan dan tindakan ketidak jujuran belakangan ini.

Banyak teman berpendapat, justru point ini paling harus diimplementasikan setiap pekerja kita dalam tugas sehari-hari.(*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved