Mencari yang Dirahasiakan: Tafsir Sufistik tentang Lailatul Qadr
Makna Lailatul Qadr dalam tafsir tasawuf: malam kemuliaan sebagai kesadaran spiritual manusia.
Mencari yang Dirahasiakan: Tafsir Sufistik tentang Lailatul Qadr
Oleh: Muliadi Saleh
TRIBUN-TIMUR.COM - Lailatul Qadr namanya. Al-Qur’an menyebutnya lebih baik dari seribu bulan. Sebuah malam yang nilai waktunya melampaui kalkulasi sejarah. Satu malam yang lebih lebih baik dari delapan puluh tiga tahun ibadah.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan. "Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?"Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan."
(QS. Al-Qadr 97: Ayat 1-3)
Namun justru di situlah rahasianya. Ia tidak pernah diberitahu secara pasti.
Allah seolah menyembunyikan malam itu di antara malam-malam Ramadan, sebagaimana Ia menyembunyikan keridaan-Nya dalam setiap amal, menyembunyikan wali-Nya di tengah manusia biasa, dan menyembunyikan ajal di balik usia.
Dalam perspektif tasawuf, kerahasiaan ini bukan sekadar ujian waktu, melainkan pendidikan spiritual bagi jiwa manusia.
Rasulullah SAW bersabda: “Carilah Lailatul Qadr pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir Ramadan.”
Para sufi memahami bahwa Lailatul Qadr bukan sekadar waktu malam dalam kalender, melainkan peristiwa kesadaran.
Kata qadr sendiri berarti kemuliaan, ketetapan, sekaligus ukuran.
Malam itu adalah saat langit spiritual terbuka, ketika takdir-takdir kehidupan diturunkan, dan ketika hati manusia memiliki peluang paling luas untuk bersentuhan dengan rahasia Ilahi.
Ibn ‘Arabi pernah menulis bahwa malam kemuliaan sejatinya terjadi ketika “cahaya Tuhan menemukan ruang kosong dalam hati manusia.”
Artinya, siapa pun yang hatinya dipenuhi oleh ego, ambisi duniawi, dan kegaduhan nafsu, akan melewati malam itu tanpa menyadarinya. Seperti seseorang yang berjalan di tengah hujan rahmat tetapi tidak membuka telapak tangannya.
Kerahasiaan Lailatul Qadr justru agar manusia tidak hanya mengejar satu malam, melainkan memuliakan seluruh malam. Jika malam itu ditentukan secara pasti, manusia mungkin hanya akan beribadah satu malam saja.
Tetapi dengan dirahasiakan, manusia didorong untuk menyalakan kesadaran sepanjang Ramadan.
Di sinilah dimensi pedagogi spiritualnya. Allah SWT sedang melatih manusia untuk istiqamah.
Al-Ghazali menjelaskan bahwa tanda seseorang menemukan Lailatul Qadr bukanlah fenomena kosmis di langit, melainkan perubahan dalam hatinya.
Hatinya menjadi lebih lembut, pikirannya lebih jernih, dan jiwanya merasakan kedamaian yang tidak biasa. Malam itu, kata para arifin, adalah malam ketika langit turun ke dalam dada manusia.
Lalu bagaimana “menemukannya”?
Para sufi memberi jawaban yang sederhana tetapi berat, "bersihkan hati !"
Hasan al-Basri berpesan, “Carilah Lailatul Qadr dengan hati yang hidup.” Sebab malam itu bukan hanya ditemukan oleh mata yang terjaga, tetapi oleh jiwa yang terbangun. Ibadah, zikir, tafakur, dan tangisan sunyi di hadapan Tuhan adalah cara-cara membuka pintu batin agar cahaya malam itu bisa masuk.
Sebagian ulama sufi bahkan mengatakan bahwa seseorang yang berhasil memurnikan hatinya dapat merasakan Lailatul Qadr kapan saja, karena hakikat malam itu adalah turunnya cahaya Tuhan ke dalam kesadaran manusia.
Dengan kata lain, Lailatul Qadr bukan hanya sebuah tanggal. Ia adalah keadaan spiritual.
Ia adalah saat ketika manusia merasa begitu kecil di hadapan Tuhan, tetapi sekaligus begitu dekat dengan-Nya. Saat doa terasa lebih jujur, air mata lebih ringan jatuh, dan jiwa seperti menemukan rumahnya kembali.
Maka pencarian Lailatul Qadr sejatinya adalah pencarian diri sendiri.
Ia bukan sekadar mencari malam di langit Ramadan, melainkan mencari cahaya di dalam hati.
Dan barangkali di situlah rahasia terdalamnya: Tuhan tidak hanya menyembunyikan malam itu di antara hari-hari Ramadan, tetapi juga menyembunyikannya di dalam kedalaman jiwa manusia.
Siapa yang menemukan dirinya, mungkin akan menemukan malam itu.(*)
| Menagih Janji Kesetaraan, Evaluasi Dua Dekade Kebijakan Afirmatif di Hari Kartini |
|
|---|
| Mendobrak Sekat Pengawasan: Mengapa Partai Politik Adalah Jantung Pengawasan Partisipatif? |
|
|---|
| Save Our Planet: Ditengah Rapuhnya Gencatan Senjata |
|
|---|
| Kartini Hari Ini: Cahaya yang Diteruskan atau Nilai yang Ditinggalkan? |
|
|---|
| Pembentukan Provinsi Luwu Raya Berdasarkan Kepentingan Strategis Nasional |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/OPINI-2-Muliadi-Saleh-salah-satu-penulis-opini-Tribun-Timur.jpg)