Opini
Kesalehan Simbolik, Sebuah Paradoks di Ruang Komunikasi Digital
Ruang sosial hanya dianggap sebagai panggung teater seperti yang disebutkan oleh Erving Goffman dalam Teori Dramaturgi-nya.
Jika merasa telah Saleh dalam tanda kutip, namun membuat kerusakan secara sosial, apalagi menyerang norma budaya yang ada, maka kesalehannya wajib dipertanyakan.
Penyakit Paradoksial
Secara sosial, kesalehan yang palsu seperti ini cenderung menghasilkan pola yang aneh dan cenderul paradoks.
Paradoks di ruang digital adalah keadaan dimana sesorang ingin terlihat apa adanya (autentik), tetapi di saat yang sama justru menfilter apa yang ditampilkan.
Saya ingin menyebut ini sebagai sebuah penyakit parakdoksial dimana manusia ingin terlihat percaya diri dalam komunikasi digital tapi kenyataannya yang ia buru adalah validasi atau pengakuan.
Seolah mengaku apa-adanya, namun foto/video yang ditampilkan melalui proses editing yang panjang.
Sehingga, apa yang ditampilkan di ruang komunikasi digital cenderung berlawanan dengan fakta yang ada. Targetnya sederhanya mulai dari menyembunyikan sisi negatif, haus validasi, serta yang terburuk adalah Munafik.
Pada akhirnya, sebagai manusia yang bercita-cita menjadi manusia utuh secara makna maupun nilai, bulan Ramadan mestinya menjadi ruang refleksi mendalam.
Evaluasi secara spiritual dan memperbaiki ekspresi sosial adalah langkah sederhana namun butuhkomitmen untuk dijalankan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-02-27-Gunawan-Songki.jpg)