Opini
Kesalehan Simbolik, Sebuah Paradoks di Ruang Komunikasi Digital
Ruang sosial hanya dianggap sebagai panggung teater seperti yang disebutkan oleh Erving Goffman dalam Teori Dramaturgi-nya.
Oleh: Gunawan Songki
Pemerhati Komunikasi Digital
TRIBUN-TIMUR.COM - Manusia senantiasa ingin terlihat bernilai positif di setiap ruang kehidupan.
Hal ini disebabkan oleh pola sosial masyarakat yang cenderung memvalidasi sesuatu berdasarkan pada apa yang terlihat secara kasat mata.
Padahal justifikasi pada sesuatu yang dianggap buruk atau baik itu tidak boleh disederhanakan pada indikator yang cenderung parsial seperti hanya lewat yang didengar dan dilihat sepintas, terlebih jika melalui media sosial.
Ruang sosial hanya dianggap sebagai panggung teater seperti yang disebutkan oleh Erving Goffman dalam Teori Dramaturgi-nya.
Goffman, menilai jika manusia cenderung tampil sesuai dengan apa yang diinginkan oleh audiensnya. Targetnya sederhana, ini hanya tentang Impression Management atau Pengelolaan Kesan.
Di zaman mutakhir, media sosial adalah ruang paling ampuh mencitrakan diri, terelebih urusan kesalehan. Siapa paling sering menampilkan diri (seolah) baik di setiap konten, ia akan cenderung terlihat lebih saleh.
Sekedar Citra
Di beberapa konten media sosial tertentu, kita sangat mudah mengidentifikasi mana yang sekedar mencitrakan diri dan mana yang benar-benar mengkampanyekan kebaikan (Agama) di ruang komunikasi digital.
Padalah secara filofofis, kesalehan itu mesti tercermin pada keseharian seorang lewat atau tanpa ada kamera yang aktif.
Ia menjadi nilai yang tertanam dalam diri dan bukan hanya sesederhana kebutuhan pragmatis seperti ingin terlihat baik di mata orang atau media sosial tertentu.
Jika demikian, istilah yang tepat dilekatkan untuk kebiasaan seperti ini adalah Kesalehan Simbolik.
Padahal jika diperdalama, kesalehan mestinya tidak selalu dipahami sebagai kedalaman spiritual secara simbolis, tetapi sebagai representasi makna religius yang dapat dibaca secara sosial dan kultural.
Dengan demikian, kesalehan mestinya lebih menekankan pada dampak dan ekspresi secara sosial dan kebudayaan.
Jika merasa telah Saleh dalam tanda kutip, namun membuat kerusakan secara sosial, apalagi menyerang norma budaya yang ada, maka kesalehannya wajib dipertanyakan.
Penyakit Paradoksial
Secara sosial, kesalehan yang palsu seperti ini cenderung menghasilkan pola yang aneh dan cenderul paradoks.
Paradoks di ruang digital adalah keadaan dimana sesorang ingin terlihat apa adanya (autentik), tetapi di saat yang sama justru menfilter apa yang ditampilkan.
Saya ingin menyebut ini sebagai sebuah penyakit parakdoksial dimana manusia ingin terlihat percaya diri dalam komunikasi digital tapi kenyataannya yang ia buru adalah validasi atau pengakuan.
Seolah mengaku apa-adanya, namun foto/video yang ditampilkan melalui proses editing yang panjang.
Sehingga, apa yang ditampilkan di ruang komunikasi digital cenderung berlawanan dengan fakta yang ada. Targetnya sederhanya mulai dari menyembunyikan sisi negatif, haus validasi, serta yang terburuk adalah Munafik.
Pada akhirnya, sebagai manusia yang bercita-cita menjadi manusia utuh secara makna maupun nilai, bulan Ramadan mestinya menjadi ruang refleksi mendalam.
Evaluasi secara spiritual dan memperbaiki ekspresi sosial adalah langkah sederhana namun butuhkomitmen untuk dijalankan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-02-27-Gunawan-Songki.jpg)