Opini
Memahami Ciptaan Allah Melalui Gigi dan Rahang
Gigi taring meruncing, berdiri di sudut lengkung rahang tidak terlalu depan, tidak pula terlalu belakang.
Geraham diberi dua hingga tiga akar agar kokoh menopang tekanan.
Bayangkan jika dibalik:
Geraham di depan, gigi seri di belakang.
Estetika rusak. Fungsi terganggu. Struktur tidak seimbang.
Semua tertata… bukan tanpa maksud.
Taring pun ditempatkan di antara seri dan geraham, menjalankan fungsi transisi: setelah dipotong, makanan dikoyak, sebelum akhirnya digiling. Sebuah sistem yang presisi.
Lalu bagaimana kita memahami ini?
Allah SWT telah menjawabnya dalam satu kalimat yang sangat agung:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
Laqad khalaqnal insāna fī ahsani taqwīm
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”(QS. At-Tin: 4)
Bukan hanya tubuh secara umum. Bukan hanya wajah.
Tetapi hingga detail kecil seperti gigi dan rahang—semuanya berada pada posisi terbaik untuk menjalankan fungsinya.
Subhanallah. Bahkan dalam proses sederhana seperti makan, Allah menata tahapan dengan sangat teratur.
Ramadhan adalah bulan tafakkur. Merenungi ciptaan Allah, bahkan dari hal yang paling dekat dengan profesi kita.
Semoga dari gigi dan rahang, iman kita ikut “terstruktur”, taqwa kita ikut “terkokohkan”, dan hati kita ikut “terhaluskan”. Wallahu a’lam bisshawaab.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-02-25-Eka-Erwansyah-Dosen-Unhas.jpg)