Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Memahami Ciptaan Allah Melalui Gigi dan Rahang

Gigi taring meruncing, berdiri di sudut lengkung rahang tidak terlalu depan, tidak pula terlalu belakang.

Tayang:
Editor: Sudirman
Tribun-timur.com/Ist
OPINI - Eka Erwansyah Dosen Unhas 

Oleh: Eka Erwansyah

Dosen Unhas

TRIBUN-TIMUR.COM - Pernahkah kita merenung mengapa gigi seri, gigi taring, dan gigi geraham diciptakan dengan bentuk dan posisi yang berbeda-beda?

Gigi seri berbentuk pipih seperti kapak kecil, berada di barisan paling depan.

Gigi taring meruncing, berdiri di sudut lengkung rahang tidak terlalu depan, tidak pula terlalu belakang.

Gigi geraham berbentuk kotak dengan permukaan luas, tersembunyi di bagian belakang.

Apakah ini kebetulan?

Secara fungsi pengunyahan, urutannya begitu sistematis:

•    Gigi seri memotong.

•    Gigi taring mengoyak.

•    Gigi geraham menggiling hingga makanan siap ditelan.

Dari sisi estetika pun demikian. Gigi seri yang paling indah ditempatkan di “etalase” depan.

Taring memberi karakter pada senyum. Sedangkan geraham—yang mungkin tidak menarik secara visual—justru memegang peran paling krusial dalam menentukan kualitas penghancuran makanan.

Dan lihatlah hikmahnya lebih dalam. Beban kunyah terbesar berada di area belakang.

Maka rahang bagian posterior dibuat paling kuat.

Geraham diberi dua hingga tiga akar agar kokoh menopang tekanan.

Bayangkan jika dibalik:

Geraham di depan, gigi seri di belakang.

Estetika rusak. Fungsi terganggu. Struktur tidak seimbang.

Semua tertata… bukan tanpa maksud.

Taring pun ditempatkan di antara seri dan geraham, menjalankan fungsi transisi: setelah dipotong, makanan dikoyak, sebelum akhirnya digiling. Sebuah sistem yang presisi.

Lalu bagaimana kita memahami ini?

Allah SWT telah menjawabnya dalam satu kalimat yang sangat agung:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

Laqad khalaqnal insāna fī ahsani taqwīm

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”(QS. At-Tin: 4)

Bukan hanya tubuh secara umum. Bukan hanya wajah.

Tetapi hingga detail kecil seperti gigi dan rahang—semuanya berada pada posisi terbaik untuk menjalankan fungsinya.

Subhanallah. Bahkan dalam proses sederhana seperti makan, Allah menata tahapan dengan sangat teratur.

Ramadhan adalah bulan tafakkur. Merenungi ciptaan Allah, bahkan dari hal yang paling dekat dengan profesi kita.

Semoga dari gigi dan rahang, iman kita ikut “terstruktur”, taqwa kita ikut “terkokohkan”, dan hati kita ikut “terhaluskan”. Wallahu a’lam bisshawaab.

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved