Opini Tasrief Surungan
Mengawali Ramadhan dengan Benar
Kalender Hijriah Global Global jika dicermati, sesungguhnya mencampur adukkan antara Garis Tanggal Kalender Masehi. Ini sebuah kekeliruan besar.
Ada pihak yang berpandangan bahwa Ramadhan Tahun 1447 H akan jatuh pada Hari Rabu, 18 Februari 2026. Alasan yang dikemukakan adalah karena telah terjadi Konjungsi pada Hari Selasa 17 Februari 2026 M, Jam 12.01 UTC. Ini bertepatan dengan Jam 19.01 WIB yang berarti wilayah Indonesia sudah malam. Ketinggian Bulan di bawah ufuk saat matahari terbenam.
Tanggal 17 Februari konjungsi terjadi di atas langit Eropah. Artinya, garis Tanggalnya di Eropah. Wilayah yg masuk Ramadhan pada keesokan harinya Rabu, Tanggal 18 Februari 2026 adalah Eropah Barat dan Amerika. Sedangkan kita di Indonesia, berdasarkan Hadith Nabi (harus menggenapkan Bulan Sya'ban menjadi 30 hari) pada hari berikutnya, yaitu Kamis Tanggal 19 Februari 2026 M.
Kalender Hijriah Global Global yang menjadi patokan bagi sebagian orang di Indonesia, jika dicermati, sesungguhnya mencampur adukkan antara Garis Tanggal Kalender Masehi (yang ada di Samudra Fasifika, 180 derajat BT) dan Garis Tanggal Hijriah. Ini sebuah kekeliruan besar sebab Garis Tanggal Kalender Hijriah tidak statis; tidak seperti Garis Tanggal Masehi).
Hilal sebagai penanda awal bulan yang diprediksi atau dihitung akan tampak di Eropa/Amerika yang kemudian dipaksakan berlaku di wilayah Indonesia secara tidak langsung mengadopsi pemahaman Bumi Datar. Jelas itu adalah kekeliruan.
Sebagai pembelajar Fisika, dalam uraian-uraian saya di tahun-tahun sebelumnya, sudah sering saya sampaikan bahwa "Konsep Wujudul Hilal Haqiqi" keliru sebab itu harus dimodifikasi guna menghindarkan perbedaan dalam mengawali puasa dan ber-hari raya, khususnya di Tanah Air.
Satu kesyukuran bahwa kini konsep itu telah ditinggalkan. Sayangnya justru beralih kepada konsep yang secara implisit menganut pandangan Bumi Datar. Kenapa disebut Bumi Datar, sebab menurut ketentuan tersebut, jika hilal telah mewujud (atau diprediksi mewujud ) di belahan Bumi lainnya, misalnya di Amerika, maka pada Tanggal yang sama, di Indonesia pun sudah harus berpuasa. Ini jelas "absurd", wilayah Amerika rata-rata berbeda 12 jam dengan wilayah Indonesia, alias pada sisi lain dari belahan bumi yang bulat ini.
Memaksakan bahwa harus berpuasa pada tanggal yang sama, berarti menjadikan globe sebagai satu hamparan, permukaan dua dimensi, padahal kenyatannya Bumi itu tiga dimensi, globe alias bulat, lebih tepatnya elips.
Pertanyaan penting lainnya yang harus dijawab adalah bagaimana mengawali puasa dengan benar?
Jawabnya sederhana, kembali kepada syariah, sesuai dengan perintah Nabi: Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena melihat hilal. Jika terhalang (awan) maka genapkanlah (bulan Sya'ban) 30 hari (HR Bukhari dan Muslim).
Perhitungan dapat saja dilakukan, namun perintah Rukyatul Hilal tidak boleh diabaikan. Ia adalah kewajiban komunal (fardhu kifayah). Perbedaan pendapat dalam mengawali puasa seyogyanya diputuskan secara bersama melalui Hakim sehingga bersifat mengikat untuk diikuti.
Dengan demikian, kita semua Insya Allah dapat mengawali Ramadhan dengan benar.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/16022026-TasrifSurungan.jpg)