Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Tasrief Surungan

Mengawali Ramadhan dengan Benar

Kalender Hijriah Global Global jika dicermati, sesungguhnya mencampur adukkan antara Garis Tanggal Kalender Masehi. Ini sebuah kekeliruan besar.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: AS Kambie
Tribun-timur.com/as kambie
PAKAR FISIKA - Prof Dr Tasrief Surungan tersenyum dalam balutan seragam muslim, seperti dalam foto yang diterima Tribun-Timur.com pada 16 Februari 2026. Tasrief Surungan adalah Anggota Dewan Profesor Unhas, Kaprodi S3 Fisika Unhas, dan WR1 Unsulbar 

Oleh: Tasrief Surungan 

Anggota Dewan Profesor Unhas/Kaprodi S3 Fisika Unhas/Plt WR1 Unsulbar

TRIBUN-TIMUR.COM - Kita sedang menghitung hari dalam memasuki Bulan Ramadan 1447 H.

Sudah sering terjadi, umat Islam di tanah air dihadapkan pada perbedaan awal Ramadan.

Akar masalahnya sebagaimana yang telah sering saya uraikan adalah masalah definisi tentang hilal.

Jadi bukan karena perbedaan metode yang digunakan, bukan karena perbedaan antara hisab atau rukyat.

Tulisan ini kembali berupaya mengulas upaya penyatuan awal bulan untuk persatuan umat.

Hilal dan Bulan

Alquran menyebut hilal dan Bulan secara terpisah. Bahasa Inggrisnya, Crescent dan Moon.

Di Surah Al-Baqarah ayat 189 disebutkan bahwa hilal adalah tanda waktu bagi manusia dan tanda haji. 

Ayat ini berada dalam klaster ayat-ayat tentang puasa Ramadan.

Definisi hilal oleh Alquran sangat efisien dan efektif serta operasional. Alquran menyebut hilal dalam bentuk jamak, yaitu Ahillah. Kenapa jamak? Karena hilal, sebagai bagian bulan yang bercahaya yang tampak dari Bumi, bentuknya berubah setiap malam.

Hilal adalah bagian Bulan yang memantulkan cahaya Matahari yang tampak dari Bumi.

Pada setiap awal bulan (malam Tanggal 1 dari Kalender Hijriah, bukan Masehi), ia muncul sesaat setelah magrib lalu lenyap. 

Pada malam berikutnya, bentuknya lebih tebal, dan semakin tebal hingga purnama pada pertengahan bulan (month).

Kecuali jika cuaca mendung, hilal tak tampak di daerah tersebut.

Pada penghujung malam, di setiap akhir bulan sepanjang tahun, yaitu malam ke-27, ke-28, hilal muncul di ufuk Timur pada subuh hari.

Malam ke 29 (bulan mati), tidak lagi tampak, sebab Bulan (Moon) memasuki fase ijtimak (konjungsi). 

Setelah itu, hilal muncul kembali di ufuk Barat saat maghrib menandai pergantian awal bulan.

Menarik saat Alquran menyebut hilal sebagai "tanda waktu".

Sebab yang disebut tanda, tentu ada kenampakan (visibilitas).

Kenampakan hilal bergantung pada keberadaan cahaya matahari serta kondisi cuaca.

Bulan adalah benda langit yang merupakan satelit bumi. Sedangkan hilal adalah bagian bulan yang bercahaya yang dikenai sinar matahari.

Tanpa sinar matahari, tidak akan ada hilal, atau jika cuaca mendung.

 Kekeliruan bagi "penganut hisab", adalah karena Hilal disamakan maknanya dengan Bulan.

Alquran menggunakan kosa kata "Qomar" sebagai benda langit. Misalnya pada Shurah 36 (Yasin) yaitu ayat 39 dan 40. Kosa kata ini juga menjadi nama dari salah satu Shurah, yaitu Shurah ke-54, Al-Qomar.

Jadi, Alquran secara tegas membedakan antara Hilal dan Bulan (Moon). Ada kemungkinan, anggapan bahwa hilal sama saja dengan bulan adalah kerena kosa kata Indonesia menggunakan bulan untuk keduanya, bulan sabit untuk hilal dan Bulan sebagai benda langit.

Bahkan durasi waktu 30 hari juga dusebut bulan (month). Bahasa Arab menggubakan kosa kata yang juga berbeda, yaitu Syahrun, misalnya Syahru Ramadhan untuk Bulan Ramadhan (The Month of Ramadhan).

Bulan Ramadhan 1447 H

Pertanyaan paling penting dijawab saat ini adalah kapan sebenarnya awal Ramadhan Tahun 1447 H.

Ada pihak yang berpandangan bahwa Ramadhan Tahun 1447 H akan jatuh pada Hari Rabu, 18 Februari 2026. Alasan yang dikemukakan adalah karena telah terjadi Konjungsi pada Hari Selasa 17 Februari 2026 M, Jam 12.01 UTC. Ini bertepatan dengan Jam 19.01 WIB yang berarti wilayah Indonesia sudah malam. Ketinggian Bulan di bawah ufuk saat matahari terbenam.

Tanggal 17 Februari konjungsi terjadi di atas langit Eropah. Artinya, garis Tanggalnya di Eropah. Wilayah yg masuk Ramadhan pada keesokan harinya Rabu, Tanggal 18 Februari 2026 adalah Eropah Barat dan Amerika. Sedangkan kita di Indonesia, berdasarkan Hadith Nabi (harus menggenapkan Bulan Sya'ban menjadi 30 hari) pada hari berikutnya, yaitu Kamis Tanggal 19 Februari 2026 M.

Kalender Hijriah Global Global yang menjadi patokan bagi sebagian orang di Indonesia, jika dicermati, sesungguhnya mencampur adukkan antara Garis Tanggal Kalender Masehi (yang ada di Samudra Fasifika, 180 derajat BT) dan Garis Tanggal Hijriah. Ini sebuah kekeliruan besar sebab Garis Tanggal Kalender Hijriah tidak statis; tidak seperti Garis Tanggal Masehi).

Hilal sebagai penanda awal bulan yang diprediksi atau dihitung akan tampak di Eropa/Amerika yang kemudian dipaksakan berlaku di wilayah Indonesia secara tidak langsung mengadopsi pemahaman Bumi Datar. Jelas itu adalah kekeliruan.

Sebagai pembelajar Fisika, dalam uraian-uraian saya di tahun-tahun sebelumnya, sudah sering saya sampaikan bahwa "Konsep Wujudul Hilal Haqiqi" keliru sebab itu harus dimodifikasi guna menghindarkan perbedaan dalam mengawali puasa dan ber-hari raya, khususnya di Tanah Air.

Satu kesyukuran bahwa kini konsep itu telah ditinggalkan. Sayangnya justru beralih kepada konsep yang secara implisit menganut pandangan Bumi Datar. Kenapa disebut Bumi Datar, sebab menurut ketentuan tersebut, jika hilal telah mewujud (atau diprediksi mewujud ) di belahan Bumi lainnya, misalnya di Amerika, maka pada Tanggal yang sama, di Indonesia pun sudah harus berpuasa. Ini jelas "absurd", wilayah Amerika rata-rata berbeda 12 jam dengan wilayah Indonesia, alias pada sisi lain dari belahan bumi yang bulat ini.

Memaksakan bahwa harus berpuasa pada tanggal yang sama, berarti menjadikan globe sebagai satu hamparan, permukaan dua dimensi, padahal kenyatannya Bumi itu tiga dimensi, globe alias bulat, lebih tepatnya elips.

Pertanyaan penting lainnya yang harus dijawab adalah bagaimana mengawali puasa dengan benar?

Jawabnya sederhana, kembali kepada syariah, sesuai dengan perintah Nabi: Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena melihat hilal. Jika terhalang (awan) maka genapkanlah (bulan Sya'ban) 30 hari (HR Bukhari dan Muslim).

Perhitungan dapat saja dilakukan, namun perintah Rukyatul Hilal tidak boleh diabaikan. Ia adalah kewajiban komunal (fardhu kifayah). Perbedaan pendapat dalam mengawali puasa seyogyanya diputuskan secara bersama melalui Hakim sehingga bersifat mengikat untuk diikuti.

Dengan demikian, kita semua Insya Allah dapat mengawali Ramadhan dengan benar.(*)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved