Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Inersia Hilirisasi?

Industri bergerak, investasi masuk, dan ekspor terjadi, namun rantai nilai tidak memanjang, keterkaitan antar sektor tetap lemah.

Editor: Sudirman
Ist
OPINI - Setiawan Aswad Pemerhati Pembangunan 

Pola ini menunjukkan bahwa hilirisasi yang relatif berjalan masih terkonsentrasi pada agro-processing—sektor yang memang lebih cepat berkembang karena ketersediaan bahan baku lokal dan teknologi yang relatif siap pakai.

Sementara itu, hilirisasi berbasis mineral dan logam, yang sering dijadikan simbol hilirisasi nasional, masih rentan terhadap fluktuasi harga global, biaya energi, logistik, serta ketergantungan pada input dan mesin impor.

Padahal, hilirisasi yang kuat umumnya tercermin dari ekspor yang meningkat secara stabil dan terdiversifikasi, bersamaan dengan impor yang terkendali akibat terbentuknya substitusi input domestik.

Data Sulawesi Selatan justru menunjukkan arah sebaliknya. Nilai ekspor September 2025 turun sekitar 18 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dan secara kumulatif Januari–September 2025 turun sekitar 20 persen.

Pada saat yang sama, impor melonjak tajam. Konsentrasi tujuan ekspor pada beberapa negara tertentu mengindikasikan portofolio produk yang sempit dan ketergantungan pada komoditas tertentu, bukan pada manufaktur dengan rantai nilai panjang.

Kondisi ini mengisyaratkan tingginya kandungan impor dalam proses produksi, sehingga nilai tambah bersih yang tertinggal di daerah relatif terbatas.

Hilirisasi yang terjadi belum mampu membangun kemandirian input, teknologi, maupun peralatan produksi.

Aspek investasi mempertegas gambaran tersebut. Realisasi investasi Sulawesi Selatan Triwulan III 2025 mencapai sekitar Rp13,7 triliun, dengan kontribusi terbesar berasal dari sektor pertambangan. Secara nominal, angka ini terlihat impresif.

Namun, investasi yang masuk sebagian besar masih terkonsentrasi pada aktivitas ekstraktif di hulu.

Investasi semacam ini memang meningkatkan kapasitas produksi, tetapi tidak otomatis memperdalam rantai nilai.

Hilirisasi sejati justru menuntut investasi pada segmen menengah dan hilir—mulai dari pengolahan lanjutan, industri turunan, komponen manufaktur, hingga logistik industri, energi, dan penguatan sumber daya manusia teknik.

Di titik inilah inersia hilirisasi bekerja: investasi tumbuh, tetapi struktur ekonomi tidak berubah secara fundamental.

Tanpa koreksi arah kebijakan, ekonomi daerah berisiko terus bergerak di lintasan lama—bertumbuh, tetapi tanpa lompatan kualitas dan daya saing jangka panjang.

Keluar dari inersia ini menuntut kebijakan yang lebih terarah dan selektif. Pemerintah perlu menggeser fokus dari sekadar menarik investasi ke mengawal kedalaman rantai nilai.

Insentif fiskal dan nonfiskal seharusnya diprioritaskan bagi investasi yang jelas memperpanjang proses produksi, bukan hanya menambah kapasitas hulu.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved