Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Muhasabah Awal Tahun Baru Perspektif Hadis dan Tasawuf 

Sebaliknya orang hanya berangan-angan tanpa muhasabah mendapatkan mudarat di dunia dan di akhirat (HR. Turmuzi: 2383).

Editor: Sudirman
DOK PRIBADI
RUBRIK OPINI - Mahmud Suyuti, Katib ‘Am Jam’iyah Khalwatiyah. Mahmud Suyuti merupakan salah satu penulis rubrik Opini Tribun Timur. 

Karena itu setiap pergantian tahun baru masehi sangat dianjurkan muhasabah dengan cara berniat memperbaiki diri, kita dilarang menyesali pergantian tahun, bahkan Nabi SAW melarang mencela perputaran waktu pergantian tahun baru.

Hadis dari Abu Hurairah RA, dari Rasulullah SAW bersabda: Jangan kalian mengutuk waktu karena Allah adalah waktu (HR Muslim dan Ahmad).

Muhasabah atau evaluasi diri memasuki tahun baru sebagai kunci pertama dari kesuksesan yang disertasu action after evaluation yakni setelah muhasabah harus ada aksi perbaikan.

Jadi muhasabah tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya tindak lanjut dalam upaya menata masa depan.

Sukses-tidaknya seseorang sangat bergantung pada kemampuan muhasabahnya. Seberapa banyak kebaikan yang diperbuat dan seberapa besar kesalahan yang telah dilakukan.

Jika output dari muhasabah itu dari hasil hitungan dominan postif maka sejatinya lebih banyak bersyukur. Tetapi jika negatif maka sejatinya istighfar dan bertaubat agar tidak terulang di hari esok.

Muhasabah dalam Dunia Tasawuf

Perspektif tasawuf, muhasabah meliputi takhalli, tahalli, dan tajalli. Dari ketiga aspek ini, kha adalah melepaskan diri dari perangai yang tercela, ha adalah menghiasi diri dengan akhlak terpuji dan jim adalah mendekatkan diri kepada Tuhan.

Pentingnya takhalli disebutkan dalam Al-Qur’an bahwa “Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya” (QS. Al-Syams/91: 9-10).

Selanjutnya tentang tahalli, “Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran” (QS. al-Nahl/16: 90).

Sedangkan tajalli, “Maka Kami bukakan tirai yang menutupi engkau, oleh sebab itu pandangan engkau amatlah terangnya” (QS. Qaaf/50: 22).

Pada maqam tajalli ini, seseorang telah sampai pada puncak makrifat, selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Makrifat merupakan ahwal tertinggi, yang datangnya sesuai atau sejalan dengan ketekunan, kerajinan, kepatuhan, dan ketaatan seseorang.

Karena itu sejak dini, sejak awal memasuki tahun baru ini langkah awal yang harus dilakukan adalah mensucikan diri dengan cara menghindarkan diri dari segala perbuatan tercelah.

Ajaran tasawwuf Syekh Yusuf al-Makassariy menekankan pentingnya kesucian batin dengan cara menghindari hasad, riya, gibah, kizb atau dusta dan penyakit-penyakit hati lainnya yang oleh Puang Ramma meringkasnya dalam pesan petuah bahasa Bugis “Padecengi Atinnu” yakni sucikan hatimu, bersihkan hatimu, atau perbaiki hatimu.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved