Opini
Membaca Arah Industrialisasi Nikel dari Lingkar Tambang Kolaka
Di desa-desa sekitar tambang di Kolaka, perubahan itu tidak datang sebagai teori ekonomi. Ia datang sebagai kenyataan sehari-hari.
Oleh: Ihwan Kadir
Warga Lingkar Tambang Kolaka
TRIBUN-TIMUR.COM - Ada satu pelajaran yang selalu muncul setiap kali industri tambang datang ke sebuah wilayah: yang pertama merasakan dampaknya bukanlah pasar global, bukan investor, bahkan bukan negara.
Yang pertama merasakan dampaknya adalah masyarakat yang tinggal paling dekat dengan tanah yang digali.
Di desa-desa sekitar tambang di Kolaka, perubahan itu tidak datang sebagai teori ekonomi. Ia datang sebagai kenyataan sehari-hari.
Jalan desa yang dulu lengang kini menjadi jalur kendaraan logistik industri.
Pesisir yang dulu hanya dipenuhi perahu nelayan kini menjadi tempat sandar kapal pengangkut mineral.
Tanah yang dulu sunyi kini menjadi lokasi pembangunan tungku-tungku smelter yang akan memasok logam bagi industri kendaraan listrik dunia.
Perubahan sebesar itu tentu membawa harapan. Tetapi ia juga membawa pertanyaan.
Sebagai seseorang yang cukup lama mengamati dinamika masyarakat di lingkar tambang, saya melihat Kolaka hari ini sedang berada di sebuah persimpangan penting dalam perjalanan industrialisasi Indonesia.
Di wilayah yang sama berdiri dua model pembangunan industri nikel yang berbeda.
Di satu sisi terdapat kawasan industri besar seperti Indonesia Pomalaa Industrial Park (IPIP) yang tumbuh dengan dukungan investasi global dan jaringan industri internasional.
Kawasan ini dibangun sebagai bagian dari rantai pasok baterai kendaraan listrik dunia, lengkap dengan pelabuhan, smelter, dan infrastruktur industri skala besar.
Di sisi lain terdapat proyek pengolahan nikel yang dibangun oleh perusahaan nasional, PT Ceria Nugraha Indotama, sebuah proyek yang oleh banyak kalangan disebut sebagai smelter merah putih karena dibangun melalui penanaman modal dalam negeri.
Kedua model ini sama-sama hadir dengan janji yang mirip: hilirisasi mineral, pembukaan lapangan kerja, dan percepatan pertumbuhan ekonomi daerah.
Namun ketika kita melihatnya dari perspektif masyarakat lingkar tambang, gambaran yang muncul ternyata jauh lebih kompleks.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Tambang-Kolaka-01042026.jpg)