Opini
Ketika Rujukan Ditolak, Siapa yang Bertanggung Jawab atas Nyawa Pasien?
Bagi sebagian orang, penolakan rujukan mungkin terdengar seperti urusan administrasi.
Oleh: dr Alwi A Mappiasse SpDV(Aesthetic) PhD
Praktisi Klinik Kedokteran Universitas Bosowa
TRIBUN-TIMUR.COM - Malam itu, seorang pasien datang dengan kondisi yang tidak biasa. Terapi standar sudah diberikan, tetapi respons tidak sesuai harapan.
Kondisinya memburuk, dan sebagai tenaga kesehatan, kami tahu satu hal dengan pasti: pasien ini harus segera dirujuk. Bukan besok. Bukan nanti. Tapi sekarang.
Rujukan diajukan. Lalu menunggu. Dan menunggu lagi.
Jawaban yang datang bukan kepastian, melainkan penolakan.
Bagi sebagian orang, penolakan rujukan mungkin terdengar seperti urusan administrasi.
Namun bagi kami yang berada di lini terdepan pelayanan kesehatan, penolakan rujukan adalah detik-detik yang bisa menentukan hidup dan mati seseorang.
Di Sulawesi Selatan, tantangan pelayanan kesehatan tidak hanya soal penyakit, tetapi juga soal jarak, waktu, dan akses.
Pasien dari daerah kabupaten bahkan kepulauan sering menempuh perjalanan panjang untuk mendapatkan pelayanan lanjutan.
Ketika akhirnya rujukan ditolak, yang tersisa bukan hanya kelelahan fisik, tetapi juga kepanikan dan keputusasaan.
Sebagai tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan tingkat awal, kami sering menghadapi pasien dengan kondisi refrakter pasien yang tidak lagi merespons terapi standar dan membutuhkan obat atau penanganan khusus.
Dalam kondisi ini, rujukan bukan pilihan, melainkan keharusan medis. Kami tahu keterbatasan kami. Kami tahu apa yang tidak tersedia. Dan kami tahu apa yang bisa terjadi jika terapi yang tepat tidak segera diberikan.
Namun sistem sering kali tidak berjalan secepat kondisi pasien memburuk.
Alasan penolakan rujukan beragam: keterbatasan tempat tidur, kendala sistem, hingga persoalan administrasi.
| Demokrasi yang Malnutrisi |
|
|---|
| Putusan MK dan Runtuhnya Praktik Multi-Audit Perkara Korupsi |
|
|---|
| Katto Bokko: Meneropong Masa Depan Petani Muda Indonesia |
|
|---|
| Ketika Laki-laki Memilih Diam: Kerentanan Bunuh Diri dalam Perspektif Emile Durkheim |
|
|---|
| Padepokan Saung Taraju Jumantara dan Rapuhnya Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-01-05-dr-Alwi-A-Mappiasse.jpg)