Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Ketika Rujukan Ditolak, Siapa yang Bertanggung Jawab atas Nyawa Pasien?

Bagi sebagian orang, penolakan rujukan mungkin terdengar seperti urusan administrasi.

Tayang:
Editor: Sudirman
TRIBUN TIMUR/ist
OPINI - dr Alwi A Mappiasse SpDV(Aesthetic) PhD Praktisi Klinik Kedokteran Universitas Bosowa 

Yang jarang dipertimbangkan adalah satu hal paling mendasar: pasien tidak bisa menunggu. Penyakit tidak berhenti hanya karena sistem sedang bermasalah.

Di sisi lain, tenaga kesehatan berada dalam dilema berat. Kami terikat sumpah profesi, dituntut memberikan pelayanan terbaik, tetapi terjebak dalam sistem yang tidak selalu memberi ruang untuk keputusan klinis yang cepat.

Ketika kondisi pasien memburuk, kamilah yang pertama kali berhadapan dengan keluarga menjawab pertanyaan yang sulit dijawab: “Kenapa belum dirujuk?” atau “Kenapa tidak ditangani lebih lanjut?” Padahal, rujukan sudah diupayakan.

Situasi ini menyisakan luka yang tidak terlihat. Luka moral dan psikologis bagi tenaga kesehatan, serta trauma bagi pasien dan keluarga.

Lebih dari itu, kondisi ini menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan kita masih terlalu sibuk mengurus prosedur, sementara nyawa manusia berpacu dengan waktu.

Pertanyaannya sederhana, tetapi sangat mendasar: ketika rujukan ditolak dan kondisi pasien memburuk, siapa yang bertanggung jawab?

Kritik ini bukan ditujukan kepada individu atau satu fasilitas tertentu. Banyak tenaga kesehatan di Sulsel bekerja dengan dedikasi tinggi di tengah keterbatasan.

Namun justru karena itulah, sistem yang menaungi mereka harus lebih kuat, lebih responsif, dan lebih manusiawi.

Pemerintah daerah, dinas kesehatan, BPJS Kesehatan, dan pengelola fasilitas layanan kesehatan perlu melihat persoalan ini dari sudut pandang pasien dan tenaga kesehatan di lapangan.

Sistem rujukan harus benar-benar menjadi jembatan penyelamat, bukan sekadar alur birokrasi yang kaku.

Penguatan regulasi penerimaan rujukan, sistem informasi yang real-time, ketersediaan obat esensial, serta perlindungan bagi tenaga kesehatan adalah kebutuhan mendesak, bukan wacana.

Tanpa itu, kejadian serupa akan terus berulang dan selalu dengan korban yang sama: "pasien".

Pelayanan kesehatan bukan sekadar angka laporan atau indikator kinerja. Ia adalah tentang manusia, tentang keluarga yang berharap, dan tentang tenaga kesehatan yang berjuang dengan segala keterbatasan.

Tulisan ini adalah suara dari lapangan. Suara yang mungkin lirih, tetapi jujur.

Bukan untuk menyalahkan, melainkan untuk mengingatkan. Karena di balik setiap rujukan yang ditolak, ada nyawa yang sedang menunggu keputusan.

Dan dalam pelayanan kesehatan, menunggu terlalu lama bisa berarti kehilangan segalanya.(*)

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved