Opini
Di Balik Kembang Api Tahun Baru: Ilusi Perayaan bagi yang Berpunya
Momen Tahun Baru menjadi ruang harapan, doa, dan simbol awal yang segar. Ia seolah menawarkan kesempatan untuk memperbaiki diri
Mereka justru menjadi pihak yang paling menanggung dampak, sebagaimana bencana ekologis yang terjadi di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Aceh, dan Kalimantan Selatan.
Bencana ini bukan sekadar peristiwa alam, melainkan konsekuensi sosio-politik dari keputusan yang melegalkan deforestasi, tambang, dan ekspansi perkebunan skala besar.
Hutan dirampas, daya dukung alam runtuh, dan ribuan nyawa harus membayar mahal atas kebijakan yang tidak pernah mereka tentukan.
Alih-alih menjadikan momen tahun baru sebagai ajang konsolidasi nasional—menentukan arah bangsa dan refleksi bersama—negara justru hadir melemahkan kesadaran rakyat.
Masyarakat diposisikan hanya sebagai konsumen, bukan subjek politik.
Pola konsumsi dijadikan instrumen ideologis untuk menciptakan ilusi bahwa kebahagiaan adalah urusan individual: cukup dengan barang baru, pengalaman baru, dan resolusi personal.
Dengan cara itu, persoalan struktural yang jauh lebih mendasar—seperti distribusi sumber daya, kesenjangan kelas, kerusakan ekologis, dan kualitas hidup masyarakat—tersingkir dari ruang publik.
Tidak ada perbaikan sistemik; yang berubah hanyalah angka kalender.
Kritik terhadap perayaan tahun baru bukanlah penolakan atas kebahagiaan. Ia adalah penolakan terhadap kebahagiaan palsu yang semu lagi sesaat, yang diproduksi untuk melanggengkan kepentingan modal.
Ketika kembang api ditembakkan ke langit, ada jutaan rakyat yang hidup tanpa kepastian kerja, tanpa ruang hidup yang aman, dan tanpa jaminan masa depan.
Di titik inilah perayaan kehilangan maknanya.
Imam Ali bin Abi Thalib pernah menasihati, “Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kekayaan jiwa.”
Nasihat ini bukan sekadar ajaran moral personal, melainkan kritik tajam terhadap logika penumpukan dan keserakahan.
Dalam semangat itu, muhasabah di penghujung tahun seharusnya tidak berhenti pada diri sendiri, tetapi meluas menjadi pembebasan sosial.(*)
| Ikan Nila 'Chicken of The Sea' di Pasar Global: Akankah Pembudidaya Ikan Lokal Ikut Naik Kelas? |
|
|---|
| Sijagaiki na Pada Salama |
|
|---|
| Menanti Nahkoda Baru Golkar Sulsel: Antara Tradisi Kekuasaan dan Kebutuhan Regenerasi |
|
|---|
| National Governance Awards 2026: Antara Meritokrasi Kinerja dan Ilusi Inovasi Tata Kelola di Sulsel |
|
|---|
| Hadis Haji: Dari Ritual ke Sosial, dari Simbol Kehormatan Menuju Simbol Perubahan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20251230-Ahmad-Raihan-1.jpg)