Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Manuver Kedaulatan Prabowo Subianto dan Kunci Nuklir Rusia

Hubungan antara Indonesia dan Rusia, yang berakar dari dukungan Uni Soviet di masa awal kemerdekaan, adalah sebuah kisah persahabatan

Tayang:
Editor: Edi Sumardi
Tribun-timur.com/DOK PRIBADI
PENULIS OPINI - Mahasiswa Doktor Hubungan Internasional dari University People’s Friendship of Russia, Achmad Firdaus Hasrullah. Dia menulis tentang hubungan antara Indonesia dan Rusia, yang berakar dari dukungan Uni Soviet di masa awal kemerdekaan. 

Ringkasan Berita:Kini, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo kita menyaksikan babak baru yang ditandai dengan pendekatan yang mendalam “hati-hati” dan sangat terukur, mengubah warisan historis menjadi optimisme strategisberbasis kepentingan nasional.
 
Kunjungan intensif Presiden Prabowo ke Rusia, termasuk kehadirannya di SPIEF pada Juni dan pertemuan bilateral penting dengan Presiden Vladimir Putin di Moskow pada 10 Desember 2025, bukan sekadar basa-basi diplomatik,

 

Achmad Firdaus H

Mahasiswa Doktor Hubungan Internasional dari University People’s Friendship of Russia

HUBUNGAN antara Indonesia dan Rusia, yang berakar dari dukungan Uni Soviet di masa awal kemerdekaan, adalah sebuah kisah persahabatan yang kaya, diwarnai oleh romantisme sejarah dan dukungan strategis di saat-saat paling krusial.

Jauh sebelum hiruk pikuk geopolitik modern, ketika Indonesia berjuang membebaskan Irian Barat, Rusia modern mewarisi kedekatan historis itu dan hubungan bilateral perlahan kembali menghangat.

Kisah lama ini memberikan landasan emosional yang kuat: bahwa di masa paling sulit, Indonesia memiliki seorang kawan yang tidak gentar mendukung kedaulatan kita.

Kini, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, kita menyaksikan babak baru yang ditandai dengan pendekatan yang mendalam “hati-hati” dan sangat terukur, mengubah warisan historis menjadi optimisme strategis yang berbasis kepentingan nasional.

Kunjungan intensif Presiden Prabowo ke Rusia, termasuk kehadirannya di SPIEF pada Juni dan pertemuan bilateral penting dengan Presiden Vladimir Putin di Moskow pada 10 Desember 2025, bukan sekadar basa-basi diplomatik; ini adalah perwujudan nyata dari Realisme Pragmatis dalam teori Hubungan Internasional.

Teori ini menekankan bahwa negara akan selalu mengutamakan kepentingan nasional dan keamanan, sementara Prabowo, dengan visi geopolitik yang tajam, menerjemahkan prinsip "bebas aktif" menjadi "bebas taktis."

Artinya, Indonesia tidak terikat pada blok manapun, tetapi bebas untuk menjalin kemitraan yang paling menguntungkan kekuatannya.

Manuver ini bertujuan mencapai Keseimbangan Kekuatan (Balancing) di Indo-Pasifik, memastikan Indonesia tidak didominasi oleh satu kekuatan adidaya saja dan memperkuat citra kita sebagai negara yang mandiri.

Baca juga: Vladimir Putin Undur 30 Menit untuk Menguji Donald Trump

Dalam konteks strategis ini, Rusia menawarkan apa yang dibutuhkan Indonesia: penguatan pertahanan dan yang lebih krusial, jaminan ketahanan nasional.

Kenaikan volume perdagangan bilateral yang signifikan pada tahun 2025 sebuah angka yang dicatat langsung oleh Presiden Vladimir Putin menunjukkan bahwa hubungan ini didorong oleh manfaat ekonomi yang nyata. 

Namun, aspek yang paling visioner dan menjanjikan datang dari tawaran eksplisit Presiden Putin untuk mengirimkan ahli nuklir Rusia ke Indonesia

Tawaran ini harus dibaca dalam kerangka kebijakan energi dan visi jangka panjang Indonesia menuju transisi energi dan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) sebagai upaya mencapai target net-zero emission.

Baca juga: Analogi Indonesia - Rusia dalam Pusaran Korupsi, Kolusi, Nepotisme

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved