Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Klakson

NU Perlu Sosok Spiritualis

Pendapat ini alas argumennya jelas, bahwa untuk pertama kalinya sejak NU berdiri 1926 silam terjadi kasus seperti ini dilingkungan PBNU.

Editor: Sudirman
Ist
KLAKSON - Abdul Karim Ketua Dewas LAPAR Sulsel Majelis Demokrasi dan Humaniora 

Karena ketua umum dan sekjend PBNU beserta loyalisnya masing-masing punya argumen AD/ART untuk menyatakan diri benar tak bersalah.

Padahal, mereka telah menorehkan kesalahan besar. NU adalah organisasi ulama—dimana akhlak dan perilaku pengurusnya harus linear dengan akhlak ulama suci.

Dengan demikian, ketua umum dan sekjend PBNU harus mundur dari kepengurusan PBNU dan memohon maaf pada seluruh jamaah NU atas tindakannya yang tidak mencerminkan nilai-nilai akhlak dan moral ulama.

Secepatnya mereka harus mundur. Bila mereka tak mundur, maka mereka hanya memperlama durasi NU dipandang negatif publik.

Selanjutnya, dimasa datang, ketua umum dan sekjend PBNU harus dari kalangan ulama spiritualis. Mengapa? Karena ulama spiritualis sangat waspada dalam bertindak.

Mereka punya filter spiritual—moral dalam bertingkah laku. Tindakannya mengandalkan rasa setelah menalar setiap persoalan.

Ambisi mereka bukan kemewahan, bukan kemilau lampu-lampu, tapi “keutamaan jamaah”. Mereka merasa terganggu bila jamaah menderita.

Itu karena mereka paham bahwa menjadi pengurus PBNU bukan soal amanah jamaah semata, tetapi itu adalah amanah langit yang jalannya telah dirintis oleh ulama-ulama suci pendiri NU.

Bila dimasa datang NU dipimpin sosok ulama spiritualis, optimisme “NU kembali ke Khittah” terang nyalanya.

Karena kembali ke khittah menempatkan NU pada ruangnya semula. Ruang semula itu adalah “keutamaan jamaah” untuk kemashlahatan republik. 

Dan ulama spiritualislah yang mampu memakanai jamaah sebagai amanah langit direpublik kita. Lalu, dimana sosok-sosok ulama spiritualis itu?

Tentu bertebaran di nusantara. Bila tak ditemukan di belahan Indonesia barat, tengah, carilah di serpihan Indonesia timur. Bisa saja disitu ada.(*)

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved