Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Irfan Yahya

Menjejak Tapak Langkah Hidayatullah Membangun Negeri Berkeadaban

Ketika JK mengatakan bahwa Hidayatullah berada “antara Muhammadiyah dan NU,” sesungguhnya JK ingin menegaskan posisi khas gerakan Hidayatullah

Tayang:
Editor: AS Kambie
DOK PRIBADI
PENULIS OPINI - Irfan Yahya di tengah tumpukan buku dan laptop saat masih berjuang menyelesaikan pendidikan S3 di Sosiologi Unhas, beberapa waktu lalu. Alumnus S3 Sosiologi Unhas ini semakin aktif menulis opini di Tribun-Timur.com dan menjadi aktivis Hidayatullah serta peneliti di LPPM Unhas. 

Di bawah kepemimpinan Ustadz Abdurrahman Muhammad, Hidayatullah memasuki fase kelembagaan syura. Peralihan sebutan dari Pemimpin Umum menjadi Rois ‘Aam pada Musyawarah Nasional VI bukan sekadar pergantian istilah administratif, tetapi simbol peneguhan transformasi paradigma: dari kepemimpinan kharismatik menuju kepemimpinan syura.

Ustadz Abdurrahman Muhammad menegaskan sejak awal bahwa dirinya tidak akan melanjutkan model kepemimpinan tunggal seperti Ustadz Abdullah Said Rahimahullah. Beliaumeyakini, kelanjutan gerakan justru terjamin jika kekuasaan terdistribusi secara berjenjang, di istikharakan dimusyawarahkan, dan diikhtiarkan dalam bentuk kelembangaan yang profetik dan profesional .

Di sinilah tampak kekhasan Hidayatullah dalam konteks gerakan Islam Indonesia. Ia bukan sekadar meniru tradisi lama, melainkan menumbuhkan kesinambungan antara warisan spiritual dan inovasi kelembagaan. Jika pada masa awal perjuangan figur Ustadz Abdullah Said Rahimahullah menjadi sumber kharisma dan energi moral, maka pada masa kini kepemimpinan kolegial berbasis syura menjadi sumber legitimasi dan resiliensi institusional.

Dengan mekanisme Ahlul Halli wal ‘Aqdi , Majelis Syura, dan lembaga eksekutif yang profetik dan profesional, Hidayatullah telah berhasil melewati alih generasi secara elegan dan konstruktif, sebuah capaian yang jarang dalam sejarah ormas Islam modern saat ini.

Kini, memasuki lima puluh tahun kedua, Hidayatullah menapaki fase rejuvenasi kelembagaan. Arah Kebijakan Strategis 2025–2030 dan Grand Design Hidayatullah 2023–2073 menegaskan pentingnya membangun organisasi yang tangguh menghadapi perubahan zaman namun tetap berpijak pada nilai profetik. Transformasi digital, penguatan sumber daya insani, dan sistem kaderisasi terpadu menjadi prioritas. Tetapi di atas segalanya, ruh pengabdian tetap terjaga: bekerja keras dengan ikhlas, disiplin beribadah, berpikir dengan hikmah, dan bersegera dalam kebaikan.

Visi besar “Membangun peradaban Islam” menjadi arah strategis Hidayatullah di lima puluh tahun keduanya. Visi ini memadukan spiritualitas, intelektualitas, dan kemanusiaan sebagai fondasi pembangunan bangsa. Negeri berkeadaban tidak hanya dimaknai sebagai cita-cita teologis, tetapi juga sebagai konstruksi sosial yang berkeadilan, yang menuntut keselarasan antara iman dan ilmu, antara moralitas dan profesionalitas.

Selama setengah abad, Hidayatullah telah menunjukkan konsistensinya membangun negeri dari akar. Dari pedalaman Kalimantan, pesisir Sulawesi, hingga pelosok Papua, gerakan ini menanamkan nilai dan pengetahuan. Ia hadir di tempat yang tidak banyak dijangkau, menghadirkan cahaya Islam dengan cara yang mencerahkan.

Gerakan dakwah yang demikian tidak semata menambah jumlah umat, tetapi meningkatkan kualitas kesadaran keislaman yang produktif dan inklusif. Inilah bentuk khidmat peradaban Hidayatullah: membangun manusia yang beriman dan berilmu sebagai pilar masyarakat berkeadilan.

Namun medan khidmat hari ini menuntut bentuk baru. Jika generasi pendiri berjuang di akar pedalaman dan hutan belantara, maka generasi kini berjuang di “hutan data” dan “belantara” digital.

Tantangannya bukan lagi sebatas infrastruktur, melainkan disrupsi nilai dan krisis makna. Karena itu, model berkhidmat harus menemukan wujud baru: memadukan akhlak dengan hukum algoritma, iman dengan inovasi, spiritualitas dengan teknologi. Dalam ruang digital yang kian kompleks, Hidayatullah ditantang untuk melahirkan peradaban cerdas: sebuah peradaban yang tidak hanya menguasai teknologi informasi digital, tetapi juga menegakkan hikmah dan kebijaksanaan di dalamnya.

Berkhidmat yang demikian menuntut kemampuan berpikir sistemik dan kecerdasan kerja kolektif. Ia memerlukan sinergi antara semua komponen umat untuk menerjemahkan nilai Islam ke dalam kehidupan sosial.

Nah Hidayatullah memiliki potensi itu karena sejak awal ia dibangun di atas visi integratif yang menggabungkan iman sebagai sumber moral, ilmu sebagai alat perubahan, dan amal sebagai bentuk tanggung jawab sosial. Ketika tiga hal ini bertemu, yang lahir bukan hanya organisasi dakwah semata, tetapi menjadi gerakan peradaban.

Ketika JK mengatakan bahwa Hidayatullah berada “antara Muhammadiyah dan NU,” sesungguhnya JK ingin menegaskan posisi khas gerakan Hidayatullah dalam mozaik Islam Indonesia: gerakan yang memadukan semangat rasionalitas dan kesalehan tradisi nubuwwah, berpikir maju tanpa tercerabut dari akar.

Berkhidmat sejati tidak berhenti pada kerja sosial semata, melainkan berlanjut pada keteladanan yang membentuk sistem nilai. Hidayatullah hari ini memikul tanggung jawab moral, spiritual, dan intelektual untuk memperlihatkan bahwa gerakan Islam dapat menjadi lokomotif kemajuan bangsa. Dengan berpegang pada Jatidirinya, Hidayatullah menapaki jalur khidmat yang membangun manusia, masyarakat, dan negeri berkeadaban.

Dari pedalaman yang menjadi saksi awal berdirinya kampus peradaban hingga ke ruang digital masa kini, satu hal tetap abaditerpatri dalam setiap lubuk hati para kader aktivis Hidayatullah: semangat pengabdian kepada Allah semata melalui pelayanan kepada umat dalam segala aspek kehidupan.

Itulah makna terdalam dari berkhidmat, dan itulah jalan yang terus dijejak tapaki Hidayatullah dalam usianya yang ke lima puluh tahun kedua, meneguhkan Islam sebagai sumber pengetahuan, membangun negeri dengan akhlak, dan menyalakan suluh peradaban dengan cahaya wahyu. Wallahualam.(*)

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved