Opini
Mengapa Santri Wajib Memuliakan Kiai?
Memuliakan kiai bukan sekadar tradisi, tapi bagian dari adab dan dalil. Santri wajib hormat sebagai bentuk cinta pada ilmu dan warisan Nabi SAW.
Jangankan terhadap kiai atau sebatas sesama muslim, justru Nabi SAW mencontohkan bagaimana menghormati jenazah non-muslim.
Suatu ketika Nabi SAW berdiri saat jenazah Yahudi lewat. Sahabat kemudian berkata, Ya Rasulullah itu adalah jenazah Ahluz zdimmi. Nabi SAW menjawab bukankan ia manusia juga ? (HR. Bukahri dan Muslim).
Ibn Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa berdirinya Nabi SAW sebagai tanda penghormatannya terhadap jenazah Yahudi tersebut (Ibn Hajar, Fathul Bari, juz VI halaman 121)
Tradisi Pesantren
Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tertua memilki peran penting dalam menanamkan syiar keagamaan.
Sejak abad ke-13 sampai 17 M pesantren telah mengajarkan tradisi bagaimana etika dalam menghargai sesama dan menghomati secara wajar bagi siapa saja khususnya terhadap kiai.
Jika seseorang yang seharusnya dihormati lewat, maka para santri berdiri di tempat itu dan cukup menggerakkan badannya, misalnya mundur ke belakang sedikit atau memindahkan kakinya yang kiri atau yang kanan.
Dengan gerakan itu cukuplah sebagai tanda penghormatan, walaupun tidak diucapkan dengan perkataan.
Ataupun kalau santri sedang duduk bersilah dalam sebuah tempat kemudian datang tamu yang harus dihormati, maka santri tidak perlu berdiri, cukuplah dengan mengadakan suatu gerakan, misalnya dengan menegakkan badan sedikit ke belakang. Gerakan seperti itu menandakan suatu penghormatan.
Tradisi lain bagi santri dari segi pakaian misalnya akrab dengan penggunaan songkok-kopyah, baju gamis-koko, dan sarung-lipa menjadi simbol keislaman yang bertahan di pesantren.
Songkok bagi santri menunjukkan keluhuran budi pekerti yang harus dijunjung tinggi karena songkok tersebut letaknya di kepala.
Secara filosofis songkok bentuknya bundar seperti mangkok kosong yang harus diisi dengan ilmu dan berkah kiai.
Jika kiainya akan lewat dengan refleks biasanya santri menyentuh bagian atas songkoknya dan mengusapnya sekaligus menguatkan posisi songkok di kepala sebab semakin kiai mendekat, santri segera merundukkan kepalanya.
Baju yang digunakan para santri pun disyaratkan putih, sebagai simbol kebersihan lahir batin, kejernihan hati, kesucian iman.
Sarung-lipa kerap terlihat bagi santri gulungan sarungnya (bidak) turun ke bawah, sehingga sewaktu-waktu harus digulung kembali.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2025-10-17-mahmud.jpg)