Opini
ChatGPT dan Budaya Hierarkis di Kampus
Bukan karena saya sepenuhnya setuju dengan gagasan hilirisasi digital berbasis AI.
Editor:
Ansar
Penilaian pun akhirnya juga dilihat dari situ.
Bukan lagi pada kekuatan argumen dan kemampuan untuk mendialogkan pandangan, tapi pada gaya bahasa yang sifatnya afirmatif.
Pada posisi ini, sudah seharusnya kita sadar untuk segera berbenah.
Solusinya cukup sederhana, yakni dengan membangun budaya akademik yang lebih dialogis.
Dosen bukanlah Tuhan yang harus diikuti pandangannya secara taken for granted melainkan teman berpikir untuk membangun ragam gagasan progresif.
Begitupun mahasiswa, ia tidak boleh hidup dalam ketakutan, tetapi hidup dalam keberanian untuk bertanya dan berdialog. (*)
Berita Terkait: #Opini
| Merawat Kemerdekaan di Tengah Krisis Ekologis |
|
|---|
| Tanaman Jungrahab Kalimantan: Dari Tradisi ke Potensi Antiinflamasi |
|
|---|
| Mengapa Harmonisasi Pembangunan Daerah Harus Melibatkan Universitas |
|
|---|
| Hukum yang Hidup dalam Peraturan Daerah |
|
|---|
| Menunaikan Komitmen Moral sang Proklamator Adalah wujud Amal Jariah Presiden Prabowo Subianto |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Muh-Rizaldi-Dosen-LB-Sekolah-Tinggi-Agama-Islam-Negeri-Majene.jpg)