Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

ChatGPT dan Budaya Hierarkis di Kampus

Bukan karena saya sepenuhnya setuju dengan gagasan hilirisasi digital berbasis AI.

Editor: Ansar
Rizaldi
TRIBUN OPINI - Muh Rizaldi Dosen LB Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Majene  

Di antara anomali yang kerap terjadi di beberapa kampus ialah arogansi dosen untuk mempertahankan pemahaman lamanya.

Hal ini juga terjadi pada kawan saya.

Tulisannya dikomentari karena memilih model penelitian yang cenderung berbeda dari yang lain dengan menjadikan fenomena keagamaan di media sosial sebagai objek penelitiannya.

Bagi dosennya, alternatif penelitian hanya ada dua yakni kajian pustaka dan studi lapangan.

Betul kata Bagus Muljadi, “Inkompetensi lebih berbahaya dari kejahatan.”

Keadaan ini turut diperparah dengan kehadiran ChatGPT.

Sebagaimana kasus kawan saya, dosen akhirnya punya alternatif jitu untuk membenarkan klaimnya dalam mempertahankan pemahaman lama.

Sedikit-sedikit muncul klaim “Ini murni menggunakan ChatGPT” meskipun pada saat yang sama tidak demikian.

Pentingnya Budaya Akademik Dialogis

Kejadian yang dialami oleh kawan saya sangat memungkinkan juga dialami oleh mahasiswa yang lain di luar sana.

Tidak heran kualitas riset mahasiswa pun semakin menurun.

Alasannya sederhana, klaim sepihak yang dilontarkan oleh dosen sedikit banyaknya pasti akan berpengaruh pada idealisme mahasiswa hingga semangat akademik pun akan menurun.

Arogansi dosen perlahan akan menuntun mahasiswa untuk lebih memilih jalan aman dengan mengekor pada arahan dosennya.

Alih-alih menghidupkan dialektika keilmuan yang progresif di kampus, mahasiswa akhirnya hanya sibuk mempelajari gaya bahasa dan kondisi mood dosen.

Semakin pandai memilih diksi yang sopan dan membaca suasana hati dosen maka semakin cepat pula tugas kuliah selesai.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved