Opini Zulkarnain Hamson
Forensik Jurnalisme Jalan Kritis Menelisik Fakta Berita
Pendekatan forensik dalam jurnalisme di Indonesia masih terus berkembang. Forensik digital, semakin urgen dalam era digital
Oleh: Zulkarnain Hamson
Dosen, Instruktur Jurnalistik dan Media
TRIBUN-TIMUR.COM - Lebih dari dua tahun terakhir, publik nasional disuguhi beragam isu yang kontroversial, menyasar bukan hanya produk kebijakan pemerintah, melainkan sudah menyasar hal-hal paling pribadi dari para pejabat negara. Media massa mainstream (surat kabar, portal berita, televisi juga radio), berlomba dengan ‘keganasan’ Media Sosial, yang mulai terlihat dijejali netizen dengan keberanian, kenakalan yang mengarah pada hilangnya prinsip etika, juga pengabaian hukum.
Metodologi forensik yang saya tawarkan, menggunakan prinsip-prinsip dari ilmu forensik sebagai metafora untuk metode jurnalisme yang ia anjurkan. Ilmu forensik berfokus pada pengumpulan, analisis, dan interpretasi bukti untuk mengungkap kebenaran dalam konteks hukum. Menerapkan pendekatan serupa dalam jurnalisme, mendorong jurnalis untuk bertindak seperti detektif yang teliti dalam mencari dan memverifikasi bukti, bukan untuk menyaingi netizen di Media Sosial, melainkan merawat mutu berita.
Forensik digital, semakin urgen dalam era digital, denga menganggap forensik digital sebagai alat yang penting untuk melacak jejak digital dan memverifikasi keaslian informasi di platform daring. Prinsip ini memungkinkan jurnalis untuk mengungkap manipulasi yang mungkin terjadi di dunia maya, untuk praktik Media Sosial. Pada kasus “Ijazah palsu Presiden Joko Widodo” misalnya, beragam fakta bermunculan dari orang-orang yang memiliki kredibilitas, hingga masyarakat awam.
Secara keseluruhan, meskipun tidak ada satu teori tunggal, pemikiran inti dalam Forensik Jurnalisme adalah sintesis dari beberapa landasan teoretis. Ia menggabungkan filosofi fakta, teori-teori jurnalisme seperti agenda setting dan jurnalisme investigasi, serta metodologi dari ilmu forensik untuk menciptakan pendekatan yang komprehensif dalam membedah fakta berita.
Tidak banyak penulis dalam studi terkait media dan jurnalisme di Indonesia, yang memakai pola pendekatan " Forensik Jurnalisme " untuk membedah fakta berita. Peneliti dan jurnalis di Aliansi Jurnalis Independen (AJI), selama ini dikenal aktif mempromosikan jurnalisme investigasi dan keamanan jurnalis. Laporan tahunan mereka patut untuk menjadi rujukan.
Pendekatan forensik dalam jurnalisme di Indonesia masih terus berkembang, dengan kolaborasi antara jurnalis investigasi dan para ahli forensik dari berbagai disiplin ilmu. Pendekatan forensik atau prinsip forensik jurnalisme yang saya gagas, mengutamakan ketelitian dan akurasi di atas kecepatan. Dengan menerapkan metodologi ini, jurnalis dapat menunjukkan komitmen mereka terhadap standar etika tertinggi, yang pada akhirnya akan meningkatkan kepercayaan publik pada media.
Secara keseluruhan, gagasan ini bukanlah sekadar teori, melainkan sebuah kerangka kerja praktis yang sangat dibutuhkan untuk menghadapi tantangan jurnalisme di era digital. Pendekatan forensik memungkinkan jurnalis untuk melangkah lebih jauh dari sekadar melaporkan, menjadi investigasi yang mendalam dan kredibel, yang pada akhirnya sangat penting untuk menjaga integritas informasi di tengah hiruk-pikuk dunia digital.
Ada beberapa teori yang menjadi dasar rujukan pemikiran, terutama dalam buku saya “Forensik Jurnalisme: Membedah Fakta Berita.” Meskipun tidak secara eksplisit merujuk pada satu teori tunggal, karya ini dibangun dari perpaduan pendekatan dalam filsafat, jurnalisme investigasi, dan ilmu forensik, pengalaman lapangan, diskusi dalam forum-forum pelatihan dan kajian akademik.
Menjadikan filsafat fakta empiris, sebagai pembuka daya kritis, dalam benak saya sangat menekankan pentingnya fakta empiris, yang didapat melalui observasi dan bukti nyata, sebagai landasan utama bagi berita yang dapat dipercaya. Pendekatan ini berakar pada pemikiran filsafat empirisme yang menekankan bahwa pengetahuan berasal dari pengalaman indrawi dan observasi.
Adapun filsafat fakta dan kebenaran, tetap berfokus pada pentingnya membedakan antara berbagai jenis fakta: empiris, publik, psikologis, dan opini, untuk menemukan kebenaran yang lebih dalam. Ide ini sejalan dengan berbagai perdebatan filsafat tentang hakikat kebenaran.
Berbagai teori jurnalisme, “Agenda Setting” misalnya mengkaji fenomena agenda setting, yakni bagaimana media massa memengaruhi persepsi publik tentang isu-isu yang dianggap penting. Dalam konteks forensik jurnalisme, pemahaman ini membantu jurnalis untuk menyadari peran mereka dalam membentuk opini publik dan tanggung jawab untuk memastikan bahwa agenda yang mereka tetapkan didasarkan pada fakta yang kuat.
Hal ini memiliki keterkaitan erat dengan, jurnalisme presisi, atau konsep yang dikembangkan oleh pakar media seperti Philip Meyer, menganjurkan penggunaan metode penelitian sains sosial untuk dapat meningkatkan akurasi laporan berita. Pendekatan yang saya tawarkan, sangat mirip dengan jurnalisme presisi, karena ia mendorong jurnalis untuk membaca data dan menggunakan metodologi yang ketat.
Tujuan akhirnya adalah menguatkan daya juang menuju jurnalisme investigasi. Buku saya ini, bisa dilihat sebagai pengembangan dari tradisi jurnalisme investigasi, yang bertujuan mengungkap kebenaran yang tersembunyi. Dengan membawa tradisi ini ke level yang lebih dalam dengan menambahkan elemen analisis forensik.(z)
| Petani Bone Mulai Menjerit, BPBD Sulsel Rancang Operasi Modifikasi Cuaca Cegah Kekeringan |
|
|---|
| Fenomena El Nino 2026: Luwu Rawan Longsor, Wajo Siaga Kebakaran |
|
|---|
| Maros Mulai Masuk Musim Panas, BMKG Prediksi Kemarau 2026 Lebih Kering |
|
|---|
| Sulsel Waspada Kemarau Kering, BMKG Imbau Warga Hemat Air, Jangan Panik! |
|
|---|
| Makna Syawal |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Zulkarnain-Hamson.jpg)