Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Sosiolog Unismuh: Judol Tidak Berdiri Sendiri, Ada Ruang Sosial Menopangnya

Warkop selama ini dikenal sebagai ruang singgah, ruang bincang, dan ruang pergaulan. Namun di balik itu...

Tayang:
dok Unismuh Makassar
PERMAINAN JUDI-Sosiolog Universitas Muhammadiyah Makassar Hadisaputra. Hadisaputra menjelaskan domino identik dengan permainan judi. 

Menurutnya, persoalan judi online menjadi semakin kompleks karena sering dipersepsikan sebagai aktivitas virtual yang sepenuhnya berlangsung di balik layar ponsel.

Padahal, praktik tersebut tetap membutuhkan titik-titik lokal.

Ia memerlukan perantara, jaringan kepercayaan, ruang aman, dan aktor lapangan yang menjembatani dunia digital dengan kehidupan sehari-hari.

“Judi online tetap butuh tubuh sosial. Butuh orang yang mengenalkan, orang yang dipercaya, tempat transaksi, dan ruang yang membuat aktivitas itu tampak biasa,” jelas dosen FKIP Unismuh Makassar itu.

Hadi menyebut, dalam konteks ini warkop dapat dipahami sebagai semacam terminal sosial, tempat ekonomi digital memperoleh pijakan di ruang fisik.

Sejumlah riset tentang perjudian daring turut memperkuat pandangan tersebut.

Ia mengutip Sirola dkk (2021) dalam The Role of Virtual Communities in Gambling and Gaming Behaviors, yang menunjukkan bahwa perilaku judi digital tidak berdiri sendiri, melainkan ditopang komunitas, percakapan, serta rasa kebersamaan yang terbentuk baik secara daring maupun luring.

Studi Savolainen dkk (2022) dalam Online Communities and Gambling Behaviors juga menegaskan bahwa komunitas dapat berfungsi sebagai ruang pembelajaran, pembenaran, sekaligus ruang pemeliharaan kebiasaan berjudi.

Sementara itu, Reith dan Dobbie (2011) dalam Beginning Gambling: The Role of Social Networks and Environment menekankan bahwa awal keterlibatan seseorang dalam perjudian kerap dipengaruhi oleh jaringan sosial terdekat.

Dengan demikian, ketika seseorang mulai mencoba judi online, dorongan ekonomi bisa menjadi pintu pertama.

Namun pintu itu sering dibuka oleh teman, keluarga, atau komunitas yang lebih dahulu menormalisasikannya.

Hadi menilai, tekanan ekonomi memang tidak bisa diabaikan. Dalam masyarakat yang dihimpit biaya hidup, terbatasnya lapangan kerja formal, dan ketidakpastian pendapatan, iming-iming uang cepat menjadi sangat menggoda.

“Kesulitan ekonomi itu faktor penting, tetapi bukan satu-satunya. Orang bisa masuk ke Judol karena tekanan finansial, tetapi mereka bertahan di dalamnya sering kali karena pengaruh pergaulan, budaya instan, kesepian, dan perubahan gaya hidup digital,” bebernya.

Ia menjelaskan, judi online tumbuh bukan hanya dari kemiskinan, tetapi dari pertemuan antara kerentanan material dan kerentanan sosial.

Hadi membaca ini sebagai bagian dari krisis harapan sosial.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved