Rektor UNM Dilapor
SAKSI KATA: Pengakuan Dosen UNM Dr QDB Soal Dugaan Pelecehan 'Sakit Hati Saya Sudah Terakumulasi'
Dosen Universitas Negeri Makassar (UNM), Dr QDB menyampaikan pernyataan langsung dalam program Saksi Kata Tribun Timur soal Dugaan Pelecehan Prof KJ.
Sejak itu, saya menyiapkan laporan dan menyampaikan kepada keluarga besar bahwa harga diri saya diinjak-injak di Grup 1 UNM. Beberapa dosen terlihat mendukung tindakan Rektor, padahal tidak demikian. Keluarga sudah mengingatkan akan ada konsekuensi, tetapi saya tidak peduli karena jabatan bukanlah hal utama. Bagi saya, jabatan tidak ada artinya jika tidak berbuat sesuatu yang jelas sesuai fungsi.
Sebagai Kepala Pusat Pengabdian, saya menjalankan tugas dengan menggelar Seminar Nasional Transportasi, yang tidak mudah dilaksanakan. Kegiatan ini melibatkan workshop, seminar, serta menghadirkan narasumber penting seperti Pak Dirjen, Prof Danang, dan sejumlah tokoh berkompeten. Stakeholder juga hadir, termasuk perwakilan Gubernur, Sekda mewakili Wali Kota, serta beberapa kepala dinas terkait. Dosen-dosen dari forum transportasi antarperguruan tinggi pun turut serta.
Namun pada bulan Mei, saat seminar berlangsung, saya justru dimarahi Rektor melalui pesan pribadi karena terlihat tersenyum saat memberi sambutan, sementara peserta dianggap sedikit. Padahal keterlambatan Rektor yang membuat peserta sempat keluar ruangan. Begitu Rektor hadir, peserta kembali memenuhi aula. Anehnya, setelah sambutan, Rektor justru memuji saya di depan forum.
Saya merasa terintimidasi. Senyum yang saya berikan adalah wajar, sebagai bentuk keramahan ketua panitia kepada peserta. Justru karena sudah berbuat yang terbaik, saya pantas bersikap demikian.
Sebenarnya, hambatan itu sudah terjadi sejak Juli. Rasa sakit hati saya sudah lama terakumulasi. Ketika harga diri seseorang yang benar justru diinjak-injak di forum, wajar jika muncul kemarahan.
Sejak Juli saya sudah berniat melepas jabatan, tetapi ayah saya meninggal. Duka itu membuat saya menunda langkah. Lalu, pada Agustus, kebetulan muncul momentum lain. Banyak yang mencoba mengaitkan dengan pencopotan jabatan, padahal itu hanya kebetulan. Saya tegaskan, tidak ada hubungannya. Rasa sakit hati ini sudah menumpuk sejak Februari.
Pihak Karta Jayadi sempat menuding motif ibu melapor karena dipecat dari jabatan. Tanggapannya?
Saya sama sekali tidak tahu akan dicopot, karena tidak ada pemberitahuan sebelumnya. Saya merasa telah bekerja dengan baik. Sebagai Kepala Pusat Pengabdian, saya melaksanakan kegiatan sesuai tupoksi. Tiga bulan setelah dilantik, saya mengadakan seminar dan workshop, termasuk seminar online atas nama UNM.
Semua kegiatan itu saya jalankan tanpa dukungan dana dari UNM. Saya hanya difasilitasi tempat dan penerimaan tamu. Untuk biaya, tidak ada satu rupiah pun yang keluar dari UNM. Meski begitu, saya tetap bersyukur atas dukungan fasilitas yang ada.
Saya menilai kinerja saya baik, apalagi saya mendapat penghargaan sebagai penasihat akademik terbaik. Karena itu saya heran, mengapa justru saya yang dicopot. Harga diri saya merasa direndahkan, dan kebetulan pencopotan itu terjadi pada Agustus.
Karta Jayadi juga mengaku percakapan itu hanya “santai” dan tidak bermaksud melecehkan. Ibu juga disebut sering 'menggodanya' dengan sebutan 'Prof Ganteng', tanggapan ibu?
Inilah yang membuat saya sangat miris. Ucapan ajakan ke hotel bukan hanya sekali, ditambah dengan kata-kata seperti “goyang yuk, tancap menancap.” Apakah itu bisa dianggap santai? Miris sekali kalau ada yang menganggapnya wajar. Bahkan ada yang menilai karena saya tidak menanggapi, seolah-olah membenarkan. Padahal sejak kecil saya dididik untuk menolak dengan cara halus dan elegan, bukan frontal.
Saya ber-KTP Yogyakarta, belasan tahun tinggal di sana, dan dibina oleh tiga guru besar yang menganggap saya seperti anak sendiri. Dari mereka, saya belajar bagaimana menolak secara santun dan tetap menjaga martabat. Jadi, meskipun saya asli Sulawesi Selatan, sikap elegan itu saya padukan dengan identitas saya sebagai orang Yogyakarta.
Soal panggilan “Prof Ganteng,” itu baru sekarang dipersoalkan. Sebelumnya, tidak pernah ada yang marah. Justru mereka senang ketika saya sapa dengan sebutan itu. Bagi saya, “Prof Ganteng” adalah sapaan positif, sama halnya dengan menyebut “Ibu Cantik.” Itu hanya bagian dari percakapan sosial sehari-hari.
Ibu juga menyebut sempat ada upaya mediasi dan intimidasi agar kasus ini tidak diperpanjang. Bisa dijelaskan bentuk intimidasi atau bujukan damai yang Ibu alami dan siapa yang menemui ibu?
Ada somasi dari PH ke saya. Reputasi saya bagus. Saya sering tampil dan narasumber di dinas, ahli transportasi. (Saya) gila jabatan? Tidak seperti itu.
Ada kepala pusat menghubungi saya, bagaimana kalau kita damai saja jabatan bisa dikembalikan. Saya marah. Saya tak mengejar jabatan.
Apakah ada pihak dari internal UNM yang mengetahui dugaan pelecehan ini sejak awal dan bagaimana reaksinya?
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.