Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Krisis Air Bersih

Deforestasi dan Tambang Ilegal Biang Kerok Krisis Air Bersih di Bone

PDAM Bone akui debit air menurun akibat deforestasi dan tambang ilegal. Warga Watampone keluhkan pasokan air tak lancar.

Penulis: Wahdaniar | Editor: Sukmawati Ibrahim
Tribun-timur.com/wahdaniar
KRISIS AIR BERSIH -  Direktur Utama PDAM Bone, Bachtiar Sairing, Senin (15/9/2025). Ia akui debit air menurun akibat deforestasi dan tambang ilegal. 

TRIBUN-TIMUR.COM, BONE – Direktur Utama PDAM Bone, Bachtiar Sairing, mengungkapkan berkurangnya debit air bersih di Kabupaten Bone disebabkan deforestasi dan aktivitas tambang ilegal di sekitar sumber mata air.

Deforestasi merupakan penggundulan hutan secara besar-besaran, baik melalui penebangan, pembakaran, maupun alih fungsi lahan menjadi pertanian, perkebunan, tambang, atau pemukiman.

Kondisi ini berdampak pada pasokan air bersih, khususnya di Kota Watampone.

Bachtiar menjelaskan, terdapat dua sumber utama mata air selama ini diandalkan, yakni di Cinnong, Kecamatan Ulaweng, dan Wollangi, Kecamatan Barebbo.

Namun, debit keduanya kini menurun drastis.

Baca juga: Petani Bone Diminta Optimalkan Petroganik, Panen Padi Tembus 8,4 Ton per Hektare

“Di Cinnong dulunya bisa sampai 30 liter per detik, sekarang paling tinggi hanya satu liter per detik. Itu karena hutan habis ditebang untuk tanaman jagung,” ujarnya kepada Tribun-Timur.com di Rujab Bupati, Senin (15/9/2025).

Sementara mata air Wollangi yang sebelumnya menghasilkan 100 liter per detik, kini hanya mengalirkan sekitar 40 liter per detik.

“Penyebabnya karena tambang ilegal. Meski operasinya sudah dihentikan DLH, dampaknya masih terasa. Apalagi pipa distribusi sudah berusia lebih dari 40 tahun. Banyak bocor dan sulit dipetakan jalurnya. Sekarang ada lebih dari 200 titik kebocoran yang sedang kami tangani,” tambahnya.

Ia menyebut kebocoran paling sulit ditangani terjadi pada pipa-pipa tertanam di bawah jembatan beton dan gorong-gorong.

“Kalau bocornya tidak kelihatan, otomatis air surut. Jadi penanganan memang cukup rumit,” jelasnya.

Meski debit air menurun, Bachtiar menyebut pihaknya telah menyiapkan langkah antisipasi dengan mencari sumber air baru.

Saat ini, investor tengah berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk mengembangkan beberapa lokasi potensial.

“Di Taretta itu debit airnya luar biasa, bisa sampai 1.000 liter per detik, hanya saja lokasinya jauh. Lalu di Pasempe juga ada, tapi masih perlu pendekatan dengan masyarakat,” jelasnya.

Ia menegaskan PDAM tidak akan mengambil seluruh debit air dari sumber baru tersebut.

“Misalnya debit airnya 100 liter per detik, kami hanya ambil 40 liter saja. Sisanya tetap untuk masyarakat, seperti kebutuhan sawah dan perairan lainnya. Jadi tidak semuanya diambil,” tegasnya.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved