Kemarau Sulsel
Petani Bone Terpuruk, Kemarau Panjang Picu Hama dan Turunkan Hasil Panen
Kemarau panjang di Bone picu serangan hama. Petani di Barebbo keluhkan hasil panen turun drastis, biaya tinggi, kualitas gabah menurun.
Penulis: Wahdaniar | Editor: Sukmawati Ibrahim
TRIBUN-TIMUR.COM, BONE – Musim kemarau panjang melanda Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel) mulai berdampak serius pada sektor pertanian.
Sejumlah petani di Desa Kampuno, Kecamatan Barebbo, mengaku hasil panen padi mereka turun drastis akibat serangan hama.
Suprianto (29), petani setempat, mengatakan sebelumnya dari lahan seluas 40 are bisa menghasilkan 40–50 karung padi.
Kini, hasil panen hanya tersisa 15–20 karung.
“Turun drastis sekali, apalagi sekarang padi banyak hamanya. Yang kemarin luas 40 are bisa dapat 40 sampai 50 karung, sekarang paling banyak cuma 15 sampai 20 karung,” ujarnya kepada Tribun-Timur.com, Senin (8/9/2025).
Ia juga kecewa karena biaya perawatan tidak sebanding dengan hasil panen.
“Biaya perawatannya mahal, baru pas panen banyak hama yang serang, jadi kurang hasil produksi,” bebernya.
Menurutnya, kebutuhan pupuk, pestisida, dan tenaga kerja terus meningkat.
Namun saat panen tiba, hasil gabah jauh menurun dibanding musim sebelumnya.
Baca juga: Warga Lappadiawo Bone Puluhan Tahun Beli Air Bersih, Belum Ada Solusi dari Pemerintah
Selain jumlahnya berkurang, kualitas gabah juga terpengaruh.
Petani lain, Ali (36), mengaku serangan hama membuat banyak bulir padi hampa dan tidak bernas, sehingga harga jual ke tengkulak lebih rendah.
Kondisi ini membuat petani semakin terpuruk.
Pendapatan diharapkan untuk kebutuhan keluarga justru berkurang di tengah biaya hidup yang tinggi.
Beberapa petani mengaku tidak punya pilihan selain tetap menanam padi meski risiko gagal panen besar.
“Kalau bukan dari padi, kami mau kerja apa lagi. Jadi tetap tanam, meski hasilnya sedikit,” ungkapnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/202509-08-petani-bone.jpg)