Opini
Andai Gempa Kamchatka Terjadi di Makassar, Kita Bisa Apa?
Gempa bumi, tsunami, banjir, atau tanah longsor menjadi bencana hanya ketika menyentuh sistem sosial yang rapuh.
Oleh : Hidayah Muhallim
Peneliti Penta Helix Indonesia, Mahasiswa Program Doktor Sosiologi Unhas
TRIBUN-TIMUR.COM - Bencana bukan sekadar peristiwa alam. Ia adalah hasil pertemuan antara gejala geologis dan konstruksi sosial yang menyertainya.
Gempa bumi, tsunami, banjir, atau tanah longsor menjadi bencana hanya ketika menyentuh sistem sosial yang rapuh.
Di sinilah pendekatan politik kebencanaan menjadi penting: untuk mengurai bagaimana negara dan aktor-aktor sosial mendistribusikan risiko, bantuan, dan perlindungan.
Ketika gempa bermagnitudo 8,7 mengguncang Semenanjung Kamchatka pada Juli 2025 dan menimbulkan gelombang tsunami lintas samudera, pertanyaan yang muncul adalah: Bagaimana jika gempa sebesar itu terjadi di Kota Makassar? Apakah daya tahan infrastruktur dan kapasitas adaptif masyarakat kita cukup memadai untuk itu?
Secara geografis, Makassar tidak terletak di zona sesar aktif seperti Palu atau Ambon.
Namun, kajian seismic hazard BMKG dan UGM menunjukkan bahwa wilayah Makassar menyimpan potensi kerentanan gempa sedang hingga tinggi, khususnya di bagian timur laut (Tamalanrea, Biringkanaya) dan wilayah pesisir.
Potensi tsunami juga ada, terutama bila terjadi aktivitas seismik di zona subduksi lepas pantai Sulawesi.
Dengan populasi lebih dari 1,47 juta jiwa, Makassar menjadi pusat konsentrasi manusia, infrastruktur, dan mobilitas ekonomi.
Namun tidak semua warga memiliki akses terhadap perlindungan yang setara. Inilah yang ditekankan oleh teori politik kebencanaan.
Dalam perspektif ini, bencana tidak terjadi dalam ruang kosong—melainkan dalam lanskap sosial yang diwarnai ketimpangan, eksklusi, dan relasi kuasa.
Sejumlah kecamatan seperti Tamalate, Mariso, dan Ujung Tanah dihuni oleh komunitas padat dan miskin.
Banyak dari mereka tinggal di rumah semi permanen, dekat garis pantai, dan jauh dari akses jalur evakuasi vertikal.
Sementara itu, kawasan-kawasan elite dan pusat pemerintahan memiliki tingkat keamanan yang lebih tinggi. Fenomena ini mencerminkan distribusi asimetris atas risiko dan perlindungan bencana.
| Katto Bokko: Meneropong Masa Depan Petani Muda Indonesia |
|
|---|
| Ketika Laki-laki Memilih Diam: Kerentanan Bunuh Diri dalam Perspektif Emile Durkheim |
|
|---|
| Padepokan Saung Taraju Jumantara dan Rapuhnya Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan |
|
|---|
| Kesadaran Kritis: Fondasi yang Lemah dalam Demokrasi Indonesia |
|
|---|
| Makassar Harus Menyelesaikan Sampahnya Sendiri, Dimulai dari Lorong |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20250731-Hidayah-Muhallim.jpg)