Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Klakson

Kurban dan Kemiskinan

Siang malam mereka berdoa dipasir gersang, di gunung bebatuan memohon keturunan hingga harapan itu diwujudkan Allah SWT.

Editor: Sudirman
Ist
KLAKSON - Abdul Karim Ketua Dewas LAPAR Sulsel / Majelis Demokrasi & Humaniora 

Dengan memerhatikan jumlah rakyat miskin negeri ini, saya lalu mengkhayal bila saja Kurban dijalankan setiap hari barangkali derita gizi rakyat miskin terkikis.

Kemiskinan di negeri ini bagai bara api yang membakar tak kunjung padam. Bahkan meluas.

PHK menggema, pengangguran menumpuk, pekerjaan semakin sulit, dan harga kebutuhan pokok tak kunjung anjlok. Kemiskinan kian runyam. 

Saya ingat sebuah kisah unik, miris yang pilu. Sepasang keluarga miskin beranak empat tak kuasa melepas diri dari jerat kemiskinan.

Sepetak rumahnya ia bangun diatas tumpangan tanah milik orang lain. Rumah rudin itu berlantai semen kering, berdinding papan-tripleks bekas.

Atapnya, susunan seng bekas yang bocor tanpa plafon, tanpa kamar. Penerangnya, hanya lampu minyak yang kadang tak nyala lantaran minyak tanah yang langka dan mahal. 

Sebuah ranjang terbuat dari papan dan balok bekas berkasur lapuk menghiasi rumah itu.

Sang kepala rumah tangga seorang pekerja informal yang harus rutin cari uang walau sedang sakit. Ia tak pernah letih berupaya membebaskan diri dari derita kemiskinan.

Anaknya yang sulung tak sekolah membantu, saban hari memulung barang bekas. 

Disuatu hari, ia bersama istrinya menemukan cara unik yang langka untuk lepas dari derita kemiskinan tanpa biaya walau hanya sejenak.

Ia mengajak istrinya bersenggama disaat stock beras menipis, disaat uang jajan sekolah dua orang anaknya mengering, dan disaat bekal dibawah kasur lapuknya tersisa beberapa lembar pecahan dua ribu rupiah—lima ribu rupiah—atau sepuluh ribu rupiah saja. 

Dengan bersenggama, mereka melepas derita kemiskinannya. Rasa nyeri karena kemiskinan ia usir dengan bersenggama.

Rintihan kemiskinan ia ganti dengan rintihan keintiman. Kepedihan hidup ia ubah dengan kenikmatan walau hanya sejenak. 

Andai saja nabi Ibrahim masih hidup diabad ini, saya tak tahu bunyi sabda apa yang keluar dari bibirnya menyimak kisah miris itu.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved