Opini
Setelah Pilkada Serentak Usai
Samuel P. Huntington melalui bukunya “The Third Wave” (1991) mengingatkan kita bahwa “legitimasi tidak hanya ditentukan oleh adanya pemilu.
Tapi rakyat pun tahu letak perbedaan antara “pemimpin yang hebat” dengan “pemimpin gagal” adalah kemauan untuk mengoreksi diri sendiri.
Itulah sebabnya rakyat tidak menuntut kesempurnaan, tetapi mereka mengharapkan pemimpinnya untuk terus belajar dan memperbaiki diri.
Pengingat terakhir, kepala daerah terpilih tidak sedang menerima hadiah atas kerja-kerja politik di masa pencalonan, tetapi justru sedang mengemban amanah.
Legitimasi bukanlah hasil sekali jadi, tetapi proses panjang yang membutuhkan komitmen, konsistensi, dan keterbukaan.
Meskipun pilkada yang baru saja usai kita laksanakan kualitasnya masih jauh dari kata sempurna, tetapi selama para pemenang datang dengan niat baik dan mampu menjaga amanah.
Pun rakyat mau terus mengawal pemerintahannya, niscaya ujung dari semua ini adalah kemaslahatan bersama. (*)
| Paradoks Demokrasi di Perguruan Tinggi |
|
|---|
| Garis Merah yang Terlampaui, Penangkapan Pemimpin Negara Mengancam Tatanan Dunia |
|
|---|
| Haji 2024 Sukses, Menteri Jadi Tersangka: Di Mana Letak Keadilan? |
|
|---|
| Menggugat Relativisme: Antara Netralitas Palsu dan Pelumpuhan Keberpihakan Moral |
|
|---|
| Ketika Likes Lebih Penting dari Nyawa: Tantangan Promosi Kesehatan di Era Viral |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/PSU-PALOPO-Ketua-KPU-Sulawesi-Selatan-Hasbullah-mengatakan.jpg)