Opini
Teguran Wali Kota Makassar Appi: Perspektif Komunikasi Kepemimpinan
Dalam video pendek yang dibagikan grup-grup WhatsApp dan juga platform media sosial, Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, terlihat melakukan gaspoll
Muannas
Pengajar Ilmu Komunikasi
SEBUAH momen tak biasa menghentak kita pada Sabtu 12 April 2025 di Jalan Dr Leimena, Makassar, Sulsel.
Dalam video pendek yang dibagikan grup-grup WhatsApp dan juga platform media sosial, Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, terlihat melakukan gaspoll teguran kepada pengendara mobil yang melawan arah arus lalu lintas.
Appi—sapaan Munafri Arifuddin, menunjukkan gestur penuh kekesalan atas pelanggaran itu karena menjadi biang kemacetan.
Aksi wali kota itu menuai beragam respon dari warga Makassar.
Peristiwa itu, seharusnya tidak cukup hanya dilihat sebagai protes langsung seorang pejabat publik terhadap pelanggar lalu lintas.
Kalau cuma soal ini, bukanlah perkara sulit untuk mengatasinya lantaran ada polisi lalu lintas dan dinas perhubungan, yang bisa melakukan penanganan secara teknis.
Namun sesungguhnya, di balik gestur tegas itu, terdapat pesan komunikasi yang kuat dari seorang pemimpin kepada warganya.
Pesan tentang kedisiplinan, ketertiban, dan integritas yang wajib ditegakkan dalam menjalankan tata kelola pemerintahan. Jadi tidak hanya berurusan dengan hiruk pikuk pengendara yang melawan arah.
Merujuk pada kajian ilmu komunikasi, tindakan seperti itu dapat dibaca sebagai bentuk komunikasi kepemimpinan (leadership communication).
Menurut Hackman dan Johnson (2013), komunikasi kepemimpinan tidaklah sebatas tentang bagaimana pemimpin menyampaikan pesan secara verbal dan nonverbal, tetapi juga bagaimana mereka membentuk makna bersama dengan pengikutnya, menciptakan budaya organisasi, dan menunjukkan nilai-nilai yang mereka pegang.
Hackman dan Johnson adalah penulis buku Leadership: A Communication Perspective.
Baca juga: Bapak Ndak Sekolah?
Teguran Appi kepada pengendara yang melawan arah mencerminkan gaya komunikasi seorang pemimpin untuk memperkuat norma sosial dan menegakkan aturan hukum di tengah masyarakat.
Peristiwa tersebut juga mengingatkan kita pada konsep pesan performatif, sebagaimana dijelaskan oleh filsuf bahasa JL Austin (1962), bahwa ucapan bisa menjadi tindakan.
| Mendobrak Sekat Pengawasan: Mengapa Partai Politik Adalah Jantung Pengawasan Partisipatif? |
|
|---|
| Mengeja Ulang Emansipasi |
|
|---|
| Save Our Planet: Ditengah Rapuhnya Gencatan Senjata |
|
|---|
| Kartini Hari Ini: Cahaya yang Diteruskan atau Nilai yang Ditinggalkan? |
|
|---|
| Pembentukan Provinsi Luwu Raya Berdasarkan Kepentingan Strategis Nasional |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Wali-Kota-Makassar-Munafri-Arifuddin-1-1622025.jpg)