Opini Afiq Naufal
Konservatifisme Prabowo Mengubah Angka Stabil Menjadi Kemarahan yang Subtil
Soalnya bukan sekadar kekuatan, melainkan bagaimana aturan permainan bisa dibelokkan sesuai kebutuhan.
Padahal, jika ditelaah lebih dalam, demo ini adalah pertanda bahwa stabilitas yang diklaim pemerintah tidak benar-benar dirasakan oleh rakyat di lapangan.
Prabowo, dalam berbagai pidatonya, sering berbicara tentang "efisiensi" sebagai kunci pembangunan.
Tapi dalam praktiknya, efisiensi ini lebih banyak diterjemahkan sebagai penghematan yang justru mengorbankan kesejahteraan rakyat.
Pemotongan anggaran di beberapa sektor vital, termasuk pendidikan dan kesehatan, semakin mempertegas bahwa logika pemerintahan ini lebih berorientasi pada angka di neraca keuangan ketimbang kenyamanan sosial masyarakat.
Ini adalah bentuk konservatisme yang tidak hanya keras, tetapi juga kaku—sebuah pendekatan yang menuntut kepatuhan, bukan partisipasi.
Maka, yang terjadi bukan sekadar kestabilan, tetapi kestabilan yang dipertahankan dengan tangan besi. Rakyat dibiarkan berada dalam kondisi yang cukup aman untuk tidak memberontak, tetapi tidak cukup nyaman untuk merasa benar-benar sejahtera.
Ini adalah bentuk kendali yang halus, di mana ketidakpastian dibiarkan mengambang, tetapi dalam batas yang tetap dapat dikendalikan oleh negara. Strategi ini mirip dengan cara pahlawan super klasik menghadapi musuhnya—bukan dengan negosiasi atau kompromi, tetapi dengan menunjukkan siapa yang lebih kuat.
Sedang dunia kita tidak lagi bekerja seperti itu. Rakyat bukan lagi penonton pasif yang hanya menerima narasi dari atas.
Mereka memiliki media sendiri, mereka memiliki ruang untuk berbicara, dan mereka memiliki kesadaran bahwa stabilitas yang sebenarnya bukan hanya tentang angka, tetapi juga tentang rasa keadilan.
Dalam politik modern, mengendalikan ekonomi saja tidak cukup; mengendalikan emosi publik adalah tantangan yang lebih besar.
Dan inilah ujian terbesar bagi Prabowo: apakah ia mampu beradaptasi dengan zaman yang menuntut dialog, atau tetap bertahan dengan gaya kepemimpinan yang keras dan tegak lurus?
Mungkin selama ini, Prabowo merasa bahwa ia adalah superhero yang menjaga ketertiban dengan kepalan tangan yang kokoh. Tetapi ia lupa bahwa di era ini, rakyat tidak lagi membutuhkan pahlawan yang hanya tahu cara bertarung.
Mereka membutuhkan pemimpin yang bisa mendengar, memahami, dan berbicara dalam bahasa yang mereka mengerti.
Jika pendekatan oldskull ini terus dipertahankan, maka stabilitas yang dijaga dengan ketat ini bukan tidak mungkin suatu saat akan berubah menjadi ledakan yang tidak terduga.
Karena dalam politik, seperti dalam tinju, seorang petarung bisa terlihat dominan di ronde-ronde awal, tetapi jika ia tidak membaca ritme lawan dan tidak memahami perubahan di sekelilingnya, satu pukulan yang tidak ia duga bisa menjatuhkannya untuk selamanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Afiq-NaufalPenulis-Antologi-Puisi-kumpulan-puisi-Hikayat-Angin.jpg)